Digitalisasi Rumah Bibit Biomassa, PLN EPI Perkuat Cofiring dan Ekonomi Desa
Jum'at, 08 Mei 2026 - 21:24 WIB
loading...
PLN EPI menerapkan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) di Rumah Bibit Gombang, Daerah Istimewa Yogyakarta. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT PLN (Persero) berkolaborasi melaksanakan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Electrifying Agriculture, di Kalurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang digelar pada Kamis (7/5) itu merupakan upaya mendorong modernisasi pembibitan tanaman energi berbasis digital.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia Mamit Setiawan mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu tanaman energi yang selama ini dijalankan PLN EPI untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi.
"Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Co-Firing Biomassa, PLN IP Berhasil Tekan 1,26 Juta Ton Emisi Karbon
Dalam kegiatan itu, diterapkan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT), sehingga proses pemeliharaan bibit kini dapat dilakukan secara terjadwal dan dikendalikan melalui perangkat ponsel. Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi beban kerja manual, serta menghasilkan bibit dengan kualitas yang lebih terjaga.
PLN EPI mengembangkan rumah pembibitan tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra yang nantinya digunakan sebagai biomassa campuran batu bara dalam skema cofiring PLTU. Program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Electrifying Agriculture di Gombang ini telah dikembangkan sejak 2023 melalui skema TJSL PLN EPI. Rumah bibit tersebut dikelola Gapoktan Tani Mulya dengan dukungan sistem digitalisasi penyiraman, instalasi listrik, hingga pelatihan pengelolaan rumah bibit modern.
Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Ponjong, menilai program tersebut sangat relevan dengan kondisi lahan di wilayah Gunungkidul yang didominasi kawasan kering dan lahan kritis dan membutuhkan inovasi dalam pengelolaan pertanian. “Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ujarnya.
Menurut dia, manfaat program juga mulai dirasakan masyarakat. Selain untuk tanaman energi, daun indigofera juga mulai dimanfaatkan warga sebagai bahan pewarna alami untuk eco print. Sementara itu, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari Agung Pratomo menilai pengembangan biomassa berbasis masyarakat menjadi model kolaborasi yang dapat menjaga keberlanjutan energi nasional.
"Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi," tuturnya.
Baca Juga: Sepanjang 2024, PLN EPI Ciptakan Value Creation Rp14,08 Triliun
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya Kalurahan Gombang, Satiman, menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak nyata bagi kelompok tani. “Dengan adanya sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok,” tandasnya.
Program Electrifying Agriculture Rumah Bibit Gombang memiliki kapasitas dukungan hingga 25.000 bibit tanaman multifungsi dan biomassa. Selain mendukung cofiring, program ini juga diarahkan untuk penghijauan dan penguatan ekonomi kelompok tani lokal.
Melalui pendekatan tersebut, PLN EPI mendorong terciptanya ekosistem energi berbasis masyarakat yang mandiri, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus lingkungan.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia Mamit Setiawan mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu tanaman energi yang selama ini dijalankan PLN EPI untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi.
"Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Co-Firing Biomassa, PLN IP Berhasil Tekan 1,26 Juta Ton Emisi Karbon
Dalam kegiatan itu, diterapkan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT), sehingga proses pemeliharaan bibit kini dapat dilakukan secara terjadwal dan dikendalikan melalui perangkat ponsel. Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi beban kerja manual, serta menghasilkan bibit dengan kualitas yang lebih terjaga.
PLN EPI mengembangkan rumah pembibitan tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra yang nantinya digunakan sebagai biomassa campuran batu bara dalam skema cofiring PLTU. Program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Electrifying Agriculture di Gombang ini telah dikembangkan sejak 2023 melalui skema TJSL PLN EPI. Rumah bibit tersebut dikelola Gapoktan Tani Mulya dengan dukungan sistem digitalisasi penyiraman, instalasi listrik, hingga pelatihan pengelolaan rumah bibit modern.
Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Ponjong, menilai program tersebut sangat relevan dengan kondisi lahan di wilayah Gunungkidul yang didominasi kawasan kering dan lahan kritis dan membutuhkan inovasi dalam pengelolaan pertanian. “Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ujarnya.
Menurut dia, manfaat program juga mulai dirasakan masyarakat. Selain untuk tanaman energi, daun indigofera juga mulai dimanfaatkan warga sebagai bahan pewarna alami untuk eco print. Sementara itu, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari Agung Pratomo menilai pengembangan biomassa berbasis masyarakat menjadi model kolaborasi yang dapat menjaga keberlanjutan energi nasional.
"Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi," tuturnya.
Baca Juga: Sepanjang 2024, PLN EPI Ciptakan Value Creation Rp14,08 Triliun
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya Kalurahan Gombang, Satiman, menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak nyata bagi kelompok tani. “Dengan adanya sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok,” tandasnya.
Program Electrifying Agriculture Rumah Bibit Gombang memiliki kapasitas dukungan hingga 25.000 bibit tanaman multifungsi dan biomassa. Selain mendukung cofiring, program ini juga diarahkan untuk penghijauan dan penguatan ekonomi kelompok tani lokal.
Melalui pendekatan tersebut, PLN EPI mendorong terciptanya ekosistem energi berbasis masyarakat yang mandiri, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus lingkungan.
(nng)
Lihat Juga :