Mengulik Kerentanan Ekonomi Nasional di Balik Angka Pertumbuhan 5,61 Persen
Selasa, 12 Mei 2026 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Diragukan, Purbaya: Angka Jelek Ribut, Angka Tinggi Ribut
Tercatat, defisit anggaran pada kuartal I-2026 nyaris menyentuh level 1% dari PDB, atau menembus angka Rp240 triliun. Padahal, pemerintah memiliki batasan ruang gerak defisit maksimal sebesar 3 persen untuk keseluruhan tahun berjalan.
"Artinya kalau satu triwulan saja sudah hampir 1 persen, kita masih ada sisa tiga triwulan lagi. Sangat sulit rasanya untuk menjaga 3 persen dengan tetap mengutamakan belanja fiskal yang fantastis jika stimulus itu tidak benar-benar menciptakan nilai tambah yang besar," jelas Rizal.
Masalah tak berhenti pada urusan kas negara saja, karena sektor eksternal turut membunyikan alarm kewaspadaan. Hal ini ditandai dengan tren penurunan cadangan devisa dan pelemahan nilai tukar rupiah yang bahkan telah menembus asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS.
Melambungnya angka pertumbuhan ekonomi faktanya tidak mampu menjadi perisai untuk menahan gempuran tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda. Tingginya capaian tersebut seolah menjadi anomali ketika disandingkan dengan risiko pelemahan fundamental yang kian membesar.
"Di balik pertumbuhan 5,61 persen ini ternyata rupiah dan risiko fundamentalnya juga tinggi. Pertumbuhan ekonomi ini belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan fundamental, tidak hanya dari sisi eksternal, tapi juga stabilitas fiskal dan daya tahan sektoral domestik," tegas Rizal.
Lebih jauh, mesin utama PDB yang biasanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga kini tampak kedodoran. Laju konsumsi terus-menerus bergerak di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional, memperlihatkan bahwa keseimbangan ekonomi saat ini digerakkan secara artifisial oleh belanja ekspansif pemerintah.
Tercatat, defisit anggaran pada kuartal I-2026 nyaris menyentuh level 1% dari PDB, atau menembus angka Rp240 triliun. Padahal, pemerintah memiliki batasan ruang gerak defisit maksimal sebesar 3 persen untuk keseluruhan tahun berjalan.
"Artinya kalau satu triwulan saja sudah hampir 1 persen, kita masih ada sisa tiga triwulan lagi. Sangat sulit rasanya untuk menjaga 3 persen dengan tetap mengutamakan belanja fiskal yang fantastis jika stimulus itu tidak benar-benar menciptakan nilai tambah yang besar," jelas Rizal.
Masalah tak berhenti pada urusan kas negara saja, karena sektor eksternal turut membunyikan alarm kewaspadaan. Hal ini ditandai dengan tren penurunan cadangan devisa dan pelemahan nilai tukar rupiah yang bahkan telah menembus asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS.
Melambungnya angka pertumbuhan ekonomi faktanya tidak mampu menjadi perisai untuk menahan gempuran tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda. Tingginya capaian tersebut seolah menjadi anomali ketika disandingkan dengan risiko pelemahan fundamental yang kian membesar.
"Di balik pertumbuhan 5,61 persen ini ternyata rupiah dan risiko fundamentalnya juga tinggi. Pertumbuhan ekonomi ini belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan fundamental, tidak hanya dari sisi eksternal, tapi juga stabilitas fiskal dan daya tahan sektoral domestik," tegas Rizal.
Lebih jauh, mesin utama PDB yang biasanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga kini tampak kedodoran. Laju konsumsi terus-menerus bergerak di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional, memperlihatkan bahwa keseimbangan ekonomi saat ini digerakkan secara artifisial oleh belanja ekspansif pemerintah.
Lihat Juga :