Pelajaran Terbesar dari MSCI Rebalancing Mei 2026 dan Kejatuhan Pasar Modal Indonesia
Minggu, 17 Mei 2026 - 20:49 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, FINE Institute mendorong agenda structural market reform yang lebih serius, mulai dari peningkatan free float, penguatan investor institusional domestik, pendalaman market depth, hingga reformasi governance emiten.
Menurut Kusfiardi, penguatan investor domestik menjadi agenda paling strategis dalam membangun financial sovereignty pasar modal Indonesia.
“Financial sovereignty bukan berarti menutup diri dari modal asing atau keluar dari integrasi pasar global, melainkan membangun kapasitas institusional domestik agar pasar nasional memiliki autonomous stabilizing power dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh external capital governance, foreign passive allocation, maupun perubahan risk sentiment global,” tegasnya.
Ia menambahkan, bahwa peristiwa Mei 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi besar terhadap arah pengembangan pasar modal nasional di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global dan dominasi kapital finansial internasional.
Menurut penilaian Kusfiardi, tantangan terbesar pasar modal Indonesia ke depan bukan hanya menjaga stabilitas harian market, tetapi membangun struktur pasar yang memiliki daya tahan institusional terhadap external capital shock. Tanpa reformasi struktural yang serius, pasar modal domestik akan terus berada dalam posisi rentan terhadap perubahan indeks global, capital reversal, dan fragmentasi keuangan internasional.
“Tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menjaga IHSG tetap hijau, tetapi membangun struktur pasar yang lebih dalam, lebih kredibel, dan memiliki kapasitas kedaulatan finansial yang lebih kuat di tengah relasi kekuasaan kapital global,” pungkas Kusfiardi.
Menurut Kusfiardi, penguatan investor domestik menjadi agenda paling strategis dalam membangun financial sovereignty pasar modal Indonesia.
“Financial sovereignty bukan berarti menutup diri dari modal asing atau keluar dari integrasi pasar global, melainkan membangun kapasitas institusional domestik agar pasar nasional memiliki autonomous stabilizing power dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh external capital governance, foreign passive allocation, maupun perubahan risk sentiment global,” tegasnya.
Ia menambahkan, bahwa peristiwa Mei 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi besar terhadap arah pengembangan pasar modal nasional di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global dan dominasi kapital finansial internasional.
Menurut penilaian Kusfiardi, tantangan terbesar pasar modal Indonesia ke depan bukan hanya menjaga stabilitas harian market, tetapi membangun struktur pasar yang memiliki daya tahan institusional terhadap external capital shock. Tanpa reformasi struktural yang serius, pasar modal domestik akan terus berada dalam posisi rentan terhadap perubahan indeks global, capital reversal, dan fragmentasi keuangan internasional.
“Tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menjaga IHSG tetap hijau, tetapi membangun struktur pasar yang lebih dalam, lebih kredibel, dan memiliki kapasitas kedaulatan finansial yang lebih kuat di tengah relasi kekuasaan kapital global,” pungkas Kusfiardi.
(akr)
Lihat Juga :