Kehadiran Wakil Ketua DPR di BEI Dinilai Jadi Sinyal Dukungan Negara di Tengah Pelemahan IHSG
Rabu, 20 Mei 2026 - 19:43 WIB
loading...
A
A
A
“Pasar sudah berada dalam tekanan bahkan sebelum rombongan tiba di gedung BEI. Karena itu, tidak tepat jika pelemahan IHSG hari ini dikaitkan dengan kunjungan Pak Dasco. Sebaliknya, justru bisa dikatakan jika kedatangan rombongan Pak Dasco bertujuan untuk menjaga kepercayaan pada bursa,” ujar Ani, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Pelajaran Terbesar dari MSCI Rebalancing Mei 2026 dan Kejatuhan Pasar Modal Indonesia
Menurut GREAT Institute, ada sedikitnya tiga faktor utama yang sedang menekan pasar saham Indonesia. Pertama, efek rebalancing MSCI yang baru diumumkan pekan lalu. MSCI mencoret enam emiten Indonesia dari indeks global standar dan 13 emiten dari indeks small-cap dengan alasan konsentrasi kepemilikan yang tinggi dan persoalan transparansi.
FTSE Russell juga kemudian mengambil langkah serupa dengan mengumumkan penghapusan saham-saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi, sambil tetap menunda full index re-ranking dan penambahan saham baru Indonesia setidaknya hingga September 2026. Sementara itu, Ani juga berpendapat bahwa saat ini indikator makro sedang mengalami pelemahan.
“Kita sama-sama tahu bahwa rupiah sedang terdepresiasi dan menembus angka psikologis baru di level Rp17.700 per dollar pada perdagangan 19 Mei 2026. Belum lagi, pada hari ini, isu terkait ekspor satu pintu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia,” tambah Ani.
Ani menilai justru dalam situasi seperti ini, kehadiran Sufmi Dasco Ahmad bersama Danantara perlu diapresiasi karena menunjukkan bahwa negara tidak membiarkan pasar bergerak sendiri.
Baca Juga: Pelajaran Terbesar dari MSCI Rebalancing Mei 2026 dan Kejatuhan Pasar Modal Indonesia
Menurut GREAT Institute, ada sedikitnya tiga faktor utama yang sedang menekan pasar saham Indonesia. Pertama, efek rebalancing MSCI yang baru diumumkan pekan lalu. MSCI mencoret enam emiten Indonesia dari indeks global standar dan 13 emiten dari indeks small-cap dengan alasan konsentrasi kepemilikan yang tinggi dan persoalan transparansi.
FTSE Russell juga kemudian mengambil langkah serupa dengan mengumumkan penghapusan saham-saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi, sambil tetap menunda full index re-ranking dan penambahan saham baru Indonesia setidaknya hingga September 2026. Sementara itu, Ani juga berpendapat bahwa saat ini indikator makro sedang mengalami pelemahan.
“Kita sama-sama tahu bahwa rupiah sedang terdepresiasi dan menembus angka psikologis baru di level Rp17.700 per dollar pada perdagangan 19 Mei 2026. Belum lagi, pada hari ini, isu terkait ekspor satu pintu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia,” tambah Ani.
Ani menilai justru dalam situasi seperti ini, kehadiran Sufmi Dasco Ahmad bersama Danantara perlu diapresiasi karena menunjukkan bahwa negara tidak membiarkan pasar bergerak sendiri.
Lihat Juga :