Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Minggu, 07 Juni 2026 - 12:21 WIB
loading...
Peneliti sekaligus pendiri Populix, Timothy Astandu menilai indikator ekonomi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat kebahagiaan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Peneliti sekaligus pendiri Populix, Timothy Astandu, menilai indikator ekonomi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat kebahagiaan masyarakat maupun memahami perilaku konsumen di suatu negara.
Kesimpulan tersebut diperoleh dari observasi lapangan yang ia lakukan saat mengunjungi 197 negara wilayah di dunia, yang memperlihatkan bahwa faktor sosial, budaya, dan psikologis memiliki peran penting dalam membentuk kualitas hidup masyarakat.
"Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia. Peningkatan ekonomi itu bagus, namun faktor penentu kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh itu saja," kata Timothy dalam pernyataannya, dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Rasa Syukur dalam Kesederhanaan
Menurut dia, anggapan bahwa peningkatan kesejahteraan material akan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan sulit dibuktikan secara universal. Di sejumlah negara yang dikunjunginya, kesederhanaan hidup justru menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat terlihat lebih menikmati kehidupan sehari-hari.
Observasi tersebut dilakukan di 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara pengamat PBB yakni Vatikan dan Palestina, serta Taiwan dan Kosovo. Perjalanan itu telah mendapat pengakuan dari Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).
Dalam setiap kunjungan, Timothy memanfaatkan interaksi langsung dengan penduduk lokal untuk memahami pola pikir dan perilaku masyarakat. Menurut dia, percakapan sehari-hari, aktivitas di pasar tradisional, hingga pengamatan terhadap kebiasaan konsumsi sering kali memberikan wawasan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui data statistik atau informasi digital.
Ia juga menemukan bahwa berbagai stereotipe mengenai suatu negara kerap berbeda dengan realitas di lapangan. Saat berkunjung ke Irak, misalnya, Timothy mengaku menemukan masyarakat yang sangat ramah dan terbuka terhadap pendatang, berbeda dengan persepsi yang terbentuk akibat pemberitaan konflik selama bertahun-tahun.
Baca Juga: 10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Pengalaman serupa ditemuinya di Somalia dan Yaman. Meski kerap diasosiasikan dengan ketidakstabilan keamanan, ia melihat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat tetap berjalan, mulai dari pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga kegiatan warga di ruang publik. Menurut Timothy, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya verifikasi lapangan sebelum menarik kesimpulan.
Bagi Timothy, pemahaman terhadap perilaku manusia dan konsumen memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dibanding sekadar membaca indikator ekonomi. Faktor sosial, budaya, dan psikologis dinilai turut menentukan cara masyarakat mengambil keputusan, berinteraksi, serta memaknai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan tersebut diperoleh dari observasi lapangan yang ia lakukan saat mengunjungi 197 negara wilayah di dunia, yang memperlihatkan bahwa faktor sosial, budaya, dan psikologis memiliki peran penting dalam membentuk kualitas hidup masyarakat.
"Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia. Peningkatan ekonomi itu bagus, namun faktor penentu kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh itu saja," kata Timothy dalam pernyataannya, dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Rasa Syukur dalam Kesederhanaan
Menurut dia, anggapan bahwa peningkatan kesejahteraan material akan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan sulit dibuktikan secara universal. Di sejumlah negara yang dikunjunginya, kesederhanaan hidup justru menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat terlihat lebih menikmati kehidupan sehari-hari.
Observasi tersebut dilakukan di 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara pengamat PBB yakni Vatikan dan Palestina, serta Taiwan dan Kosovo. Perjalanan itu telah mendapat pengakuan dari Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).
Dalam setiap kunjungan, Timothy memanfaatkan interaksi langsung dengan penduduk lokal untuk memahami pola pikir dan perilaku masyarakat. Menurut dia, percakapan sehari-hari, aktivitas di pasar tradisional, hingga pengamatan terhadap kebiasaan konsumsi sering kali memberikan wawasan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui data statistik atau informasi digital.
Ia juga menemukan bahwa berbagai stereotipe mengenai suatu negara kerap berbeda dengan realitas di lapangan. Saat berkunjung ke Irak, misalnya, Timothy mengaku menemukan masyarakat yang sangat ramah dan terbuka terhadap pendatang, berbeda dengan persepsi yang terbentuk akibat pemberitaan konflik selama bertahun-tahun.
Baca Juga: 10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Pengalaman serupa ditemuinya di Somalia dan Yaman. Meski kerap diasosiasikan dengan ketidakstabilan keamanan, ia melihat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat tetap berjalan, mulai dari pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga kegiatan warga di ruang publik. Menurut Timothy, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya verifikasi lapangan sebelum menarik kesimpulan.
Bagi Timothy, pemahaman terhadap perilaku manusia dan konsumen memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dibanding sekadar membaca indikator ekonomi. Faktor sosial, budaya, dan psikologis dinilai turut menentukan cara masyarakat mengambil keputusan, berinteraksi, serta memaknai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
(nng)
Lihat Juga :