IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
Minggu, 07 Juni 2026 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Meski demikian, pasar saat ini dinilai tidak hanya menguji ketahanan rupiah maupun level IHSG. "Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan," tegasnya.
FINE Institute menilai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah perlu disikapi secara hati-hati. Secara teoritis, mata uang domestik dapat menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor.
Namun, dengan IHSG yang masih berada dalam tren koreksi tajam, rupiah yang bertahan di salah satu level terlemah dalam dua dekade terakhir, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung, pasar dinilai belum melihat faktor fundamental yang cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan dalam waktu dekat.
"Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi," ujar Kusfiardi.
Ia menambahkan, gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 menjadi pelajaran penting mengenai tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap modal asing dan sentimen global. Sebab itu, agenda yang mendesak tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, melainkan juga melakukan reformasi struktural melalui pendalaman pasar keuangan domestik, penguatan investor institusional nasional, peningkatan free float, perbaikan tata kelola pasar, serta penciptaan kepastian kebijakan yang lebih kuat.
Meski demikian, pasar saat ini dinilai tidak hanya menguji ketahanan rupiah maupun level IHSG. "Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan," tegasnya.
FINE Institute menilai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah perlu disikapi secara hati-hati. Secara teoritis, mata uang domestik dapat menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor.
Namun, dengan IHSG yang masih berada dalam tren koreksi tajam, rupiah yang bertahan di salah satu level terlemah dalam dua dekade terakhir, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung, pasar dinilai belum melihat faktor fundamental yang cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan dalam waktu dekat.
"Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi," ujar Kusfiardi.
Ia menambahkan, gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 menjadi pelajaran penting mengenai tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap modal asing dan sentimen global. Sebab itu, agenda yang mendesak tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, melainkan juga melakukan reformasi struktural melalui pendalaman pasar keuangan domestik, penguatan investor institusional nasional, peningkatan free float, perbaikan tata kelola pasar, serta penciptaan kepastian kebijakan yang lebih kuat.
(nng)
Lihat Juga :