Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Selasa, 09 Juni 2026 - 16:11 WIB
loading...
Bank Indonesia (BI) menyiapkan serangkaian langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. FOTO/dok.SndoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir berlangsung lebih dalam dibandingkan proyeksi yang disusun pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. Kondisi tersebut mendorong bank sentral menyiapkan serangkaian langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan pasar global.
“Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu. Karena itu diperlukan langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo usai rapat Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Langkah pertama yang ditempuh BI adalah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengurangi tekanan arus modal keluar, serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah pada tahun depan.
Selain itu, BI juga menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna meningkatkan daya tarik investasi portofolio di pasar domestik. Menurut Perry, peningkatan suku bunga dan imbal hasil SRBI diharapkan dapat mendorong kembali aliran modal asing masuk ke Indonesia setelah sempat terjadi arus keluar dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah ketiga berupa pemberian insentif swap lindung nilai (hedging) sebesar 10 persen bagi investor asing yang menempatkan dananya pada instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), saham, maupun SRBI. Insentif tersebut diberikan melalui penurunan biaya lindung nilai sehingga investasi di pasar keuangan Indonesia menjadi lebih kompetitif.
Untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan, BI juga membuka kembali fasilitas lelang repurchase agreement (repo) dengan tenor hingga 12 bulan. Melalui mekanisme tersebut, perbankan dapat memperoleh likuiditas dengan menjaminkan surat berharga seperti SBN dan SRBI kepada bank sentral.
Baca Juga: Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
Langkah kelima dilakukan melalui peningkatan intensitas operasi moneter dan pasar valuta asing. BI akan memperkuat intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta meningkatkan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali dalam sepekan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Perry menegaskan berbagai kebijakan tersebut sekaligus menjawab spekulasi mengenai kemampuan BI dalam menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang sangat memadai berdasarkan indikator kecukupan internasional yang digunakan Dana Moneter Internasional (IMF).
“Cadangan devisa kita masih lebih dari cukup. Berdasarkan indikator adequacy reserve asset, posisinya masih di atas 115 persen dan setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor,” ujar Perry. Ia menambahkan kondisi tersebut menunjukkan ruang yang cukup bagi BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sektor keuangan nasional.
“Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu. Karena itu diperlukan langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo usai rapat Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Langkah pertama yang ditempuh BI adalah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengurangi tekanan arus modal keluar, serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah pada tahun depan.
Selain itu, BI juga menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna meningkatkan daya tarik investasi portofolio di pasar domestik. Menurut Perry, peningkatan suku bunga dan imbal hasil SRBI diharapkan dapat mendorong kembali aliran modal asing masuk ke Indonesia setelah sempat terjadi arus keluar dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah ketiga berupa pemberian insentif swap lindung nilai (hedging) sebesar 10 persen bagi investor asing yang menempatkan dananya pada instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), saham, maupun SRBI. Insentif tersebut diberikan melalui penurunan biaya lindung nilai sehingga investasi di pasar keuangan Indonesia menjadi lebih kompetitif.
Untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan, BI juga membuka kembali fasilitas lelang repurchase agreement (repo) dengan tenor hingga 12 bulan. Melalui mekanisme tersebut, perbankan dapat memperoleh likuiditas dengan menjaminkan surat berharga seperti SBN dan SRBI kepada bank sentral.
Baca Juga: Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
Langkah kelima dilakukan melalui peningkatan intensitas operasi moneter dan pasar valuta asing. BI akan memperkuat intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta meningkatkan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali dalam sepekan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Perry menegaskan berbagai kebijakan tersebut sekaligus menjawab spekulasi mengenai kemampuan BI dalam menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang sangat memadai berdasarkan indikator kecukupan internasional yang digunakan Dana Moneter Internasional (IMF).
“Cadangan devisa kita masih lebih dari cukup. Berdasarkan indikator adequacy reserve asset, posisinya masih di atas 115 persen dan setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor,” ujar Perry. Ia menambahkan kondisi tersebut menunjukkan ruang yang cukup bagi BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sektor keuangan nasional.
(nng)
Lihat Juga :