Iran Gunakan Selat Hormuz Jegal Tekanan AS, Pasar Minyak Dunia Ketar-ketir
Senin, 06 Juli 2026 - 22:02 WIB
loading...
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian geopolitik dan ekonomi global setelah Iran dinilai menjadikan kendali atas jalur pelayaran energi dunia. FOTO/SBS News
A
A
A
JAKARTA - Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian geopolitik dan ekonomi global setelah Iran dinilai menjadikan kendali atas jalur pelayaran energi dunia itu sebagai aset strategis utama dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Pergeseran strategi tersebut terjadi di tengah mandeknya pembahasan program nuklir pascaperang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Bagi Iran, pengakuan simbolis atas posisinya di Selat Hormuz jauh lebih penting daripada keuntungan finansial," ujar Analis Senior Middle East Institute Alex Vatanka dikutip dari Reuters, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Sejumlah analis menilai pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dipadati jutaan pelayat dimanfaatkan Teheran untuk menunjukkan soliditas politik dan daya tahan negara itu setelah serangan militer AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Pesan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa Iran merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perundingan ke depan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Kondisi itu membuat setiap eskalasi di kawasan berpotensi langsung memengaruhi stabilitas pasar energi internasional.
Iran disebut lebih fokus memperkuat pengaruhnya atas Selat Hormuz sebelum melanjutkan negosiasi nuklir. Gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya diharapkan Washington menjadi pintu masuk menuju kesepakatan baru sejauh ini belum menghasilkan kemajuan signifikan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Selat Hormuz sebagai instrumen kekuatan terbesar negaranya dan menegaskan Iran tidak akan melepaskan haknya atas kawasan tersebut. Sejumlah diplomat Timur Tengah menilai Teheran kini berupaya mengubah daya tahannya selama perang menjadi keuntungan diplomatik jangka panjang.
Pengaruh Iran di kawasan itu dinilai dapat diwujudkan melalui pengaturan lalu lintas pelayaran, mekanisme koordinasi kawasan, hingga layanan terkait aktivitas maritim di Selat Hormuz. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan posisi tawar Iran terhadap negara-negara pengimpor energi sekaligus menambah ketidakpastian di pasar minyak global apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.
Mantan diplomat AS Alan Eyre mengatakan Teheran tidak memiliki urgensi untuk segera menyelesaikan pembahasan program nuklir. “Iran nyaman memainkan waktu karena mereka yakin kendali atas Hormuz memberi posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi,” ujar Eyre.
Baca Juga: OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Menurut Eyre, pemerintah Iran juga menilai Presiden AS Donald Trump berada di bawah tekanan politik domestik untuk segera mencapai kesepakatan sehingga Washington dinilai lebih membutuhkan hasil perundingan dibandingkan Teheran. Pandangan serupa disampaikan mantan negosiator Timur Tengah AS Aaron David Miller yang menilai operasi militer Washington gagal menghilangkan pengaruh Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Emirates Policy Center Ebtesam Al-Ketbi mengatakan penghentian perang tanpa penyelesaian akar konflik justru membuat Selat Hormuz berubah dari sekadar titik rawan menjadi instrumen tekanan jangka panjang bagi Iran.
"Bagi Iran, pengakuan simbolis atas posisinya di Selat Hormuz jauh lebih penting daripada keuntungan finansial," ujar Analis Senior Middle East Institute Alex Vatanka dikutip dari Reuters, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Sejumlah analis menilai pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dipadati jutaan pelayat dimanfaatkan Teheran untuk menunjukkan soliditas politik dan daya tahan negara itu setelah serangan militer AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Pesan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa Iran merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perundingan ke depan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Kondisi itu membuat setiap eskalasi di kawasan berpotensi langsung memengaruhi stabilitas pasar energi internasional.
Iran disebut lebih fokus memperkuat pengaruhnya atas Selat Hormuz sebelum melanjutkan negosiasi nuklir. Gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya diharapkan Washington menjadi pintu masuk menuju kesepakatan baru sejauh ini belum menghasilkan kemajuan signifikan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Selat Hormuz sebagai instrumen kekuatan terbesar negaranya dan menegaskan Iran tidak akan melepaskan haknya atas kawasan tersebut. Sejumlah diplomat Timur Tengah menilai Teheran kini berupaya mengubah daya tahannya selama perang menjadi keuntungan diplomatik jangka panjang.
Pengaruh Iran di kawasan itu dinilai dapat diwujudkan melalui pengaturan lalu lintas pelayaran, mekanisme koordinasi kawasan, hingga layanan terkait aktivitas maritim di Selat Hormuz. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan posisi tawar Iran terhadap negara-negara pengimpor energi sekaligus menambah ketidakpastian di pasar minyak global apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.
Mantan diplomat AS Alan Eyre mengatakan Teheran tidak memiliki urgensi untuk segera menyelesaikan pembahasan program nuklir. “Iran nyaman memainkan waktu karena mereka yakin kendali atas Hormuz memberi posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi,” ujar Eyre.
Baca Juga: OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Menurut Eyre, pemerintah Iran juga menilai Presiden AS Donald Trump berada di bawah tekanan politik domestik untuk segera mencapai kesepakatan sehingga Washington dinilai lebih membutuhkan hasil perundingan dibandingkan Teheran. Pandangan serupa disampaikan mantan negosiator Timur Tengah AS Aaron David Miller yang menilai operasi militer Washington gagal menghilangkan pengaruh Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Emirates Policy Center Ebtesam Al-Ketbi mengatakan penghentian perang tanpa penyelesaian akar konflik justru membuat Selat Hormuz berubah dari sekadar titik rawan menjadi instrumen tekanan jangka panjang bagi Iran.
(nng)
Lihat Juga :