Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
Kamis, 09 Juli 2026 - 21:55 WIB
loading...
Gas sisa dibakar di sebuah pabrik pengolahan minyak mentah. FOTO/AP
A
A
A
LONDON - Rusia resmi melarang seluruh ekspor bahan bakar diesel (solar) di tengah meningkatnya gangguan pasokan domestik akibat serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak. Kebijakan tersebut juga memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
"Keputusan ini diambil untuk meningkatkan pasokan ke pasar domestik," ungkap Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dalam pertemuan yang disiarkan televisi bersama Presiden Vladimir Putin, dikutip dari CNN Internasional, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik
Larangan tersebut memperluas kebijakan sebelumnya yang hanya melarang perusahaan nonprodusen, seperti pedagang bahan bakar, mengekspor solar. Kini pembatasan juga berlaku bagi seluruh produsen, sehingga secara efektif menghentikan seluruh ekspor diesel Rusia, kata analis senior produk minyak Energy Aspects, Natalia Losada.
Langkah itu diambil meski beberapa hari sebelumnya Novak menyatakan pasokan bensin dan solar di pasar domestik Rusia dalam kondisi mencukupi. Namun, laporan di berbagai wilayah menunjukkan antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, bahkan sejumlah SPBU menerapkan pembatasan pembelian akibat kelangkaan pasokan.
Analisis CNN menyebutkan, hampir seluruh dari 83 wilayah Rusia mengalami kekurangan bensin atau gangguan distribusi bahan bakar. Media lokal bahkan melaporkan sebagian masyarakat harus mengantre hingga 18 jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Gangguan pasokan dipicu oleh serangan drone Ukraina yang terus menyasar kilang minyak, fasilitas energi, dan infrastruktur di wilayah Rusia maupun Crimea yang dianeksasi Rusia pada 2014. Citra satelit NASA juga menunjukkan penurunan signifikan intensitas cahaya pada malam hari di Crimea dibandingkan tahun lalu, mengindikasikan terganggunya pasokan listrik.
Di saat yang sama, pasar energi global menghadapi tekanan tambahan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran kembali mencuat setelah gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai semakin rapuh, sehingga meningkatkan risiko terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Losada menilai larangan ekspor Rusia akan memperburuk kondisi pasar karena terjadi bersamaan dengan terbatasnya arus minyak dari Timur Tengah. Sementara itu, analis senior Kpler Davin Tonyan memperkirakan kebijakan tersebut akan mendorong kenaikan harga diesel global, meski larangan ekspor diperkirakan tidak berlangsung lama mengingat besarnya potensi pendapatan ekspor yang harus dikorbankan Rusia.
Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua di dunia setelah AS. Negara tujuan utama ekspor solar Rusia adalah Turki dan Brasil. Berkurangnya pasokan ke kedua negara diperkirakan akan meningkatkan persaingan memperoleh pasokan dari AS, Timur Tengah, dan India. Data Intercontinental Exchange menunjukkan harga acuan diesel global sempat melonjak hampir 13% sebelum akhirnya terkoreksi lebih dari 3% pada perdagangan berikutnya.
"Keputusan ini diambil untuk meningkatkan pasokan ke pasar domestik," ungkap Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dalam pertemuan yang disiarkan televisi bersama Presiden Vladimir Putin, dikutip dari CNN Internasional, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik
Larangan tersebut memperluas kebijakan sebelumnya yang hanya melarang perusahaan nonprodusen, seperti pedagang bahan bakar, mengekspor solar. Kini pembatasan juga berlaku bagi seluruh produsen, sehingga secara efektif menghentikan seluruh ekspor diesel Rusia, kata analis senior produk minyak Energy Aspects, Natalia Losada.
Langkah itu diambil meski beberapa hari sebelumnya Novak menyatakan pasokan bensin dan solar di pasar domestik Rusia dalam kondisi mencukupi. Namun, laporan di berbagai wilayah menunjukkan antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, bahkan sejumlah SPBU menerapkan pembatasan pembelian akibat kelangkaan pasokan.
Analisis CNN menyebutkan, hampir seluruh dari 83 wilayah Rusia mengalami kekurangan bensin atau gangguan distribusi bahan bakar. Media lokal bahkan melaporkan sebagian masyarakat harus mengantre hingga 18 jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Gangguan pasokan dipicu oleh serangan drone Ukraina yang terus menyasar kilang minyak, fasilitas energi, dan infrastruktur di wilayah Rusia maupun Crimea yang dianeksasi Rusia pada 2014. Citra satelit NASA juga menunjukkan penurunan signifikan intensitas cahaya pada malam hari di Crimea dibandingkan tahun lalu, mengindikasikan terganggunya pasokan listrik.
Di saat yang sama, pasar energi global menghadapi tekanan tambahan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran kembali mencuat setelah gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai semakin rapuh, sehingga meningkatkan risiko terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Losada menilai larangan ekspor Rusia akan memperburuk kondisi pasar karena terjadi bersamaan dengan terbatasnya arus minyak dari Timur Tengah. Sementara itu, analis senior Kpler Davin Tonyan memperkirakan kebijakan tersebut akan mendorong kenaikan harga diesel global, meski larangan ekspor diperkirakan tidak berlangsung lama mengingat besarnya potensi pendapatan ekspor yang harus dikorbankan Rusia.
Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua di dunia setelah AS. Negara tujuan utama ekspor solar Rusia adalah Turki dan Brasil. Berkurangnya pasokan ke kedua negara diperkirakan akan meningkatkan persaingan memperoleh pasokan dari AS, Timur Tengah, dan India. Data Intercontinental Exchange menunjukkan harga acuan diesel global sempat melonjak hampir 13% sebelum akhirnya terkoreksi lebih dari 3% pada perdagangan berikutnya.
(nng)
Lihat Juga :