Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Jum'at, 10 Juli 2026 - 07:41 WIB
loading...
Namun ada satu anomali besar yang membuat para pakar ekonomi heran. Pasar keuangan global dan harga minyak dunia justru merespons situasi darurat ini dengan sangat santai. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan militer antara Amerika Serikat atau AS dan Iran dilaporkan telah membuat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz -urat nadi pasokan energi dunia- kembali berada dalam posisi lumpuh total (standstill). Setelah Iran nekat menyerang tiga kapal komersial awal pekan ini, militer AS langsung membalas dengan gempuran udara masif yang menghantam 80 target pada Rabu dan 90 target tambahan pada Kamis kemarin.
Namun ada satu anomali besar yang membuat para pakar ekonomi heran. Pasar keuangan global dan harga minyak dunia justru merespons situasi darurat ini dengan sangat santai!
Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Secara teori, kelumpuhan jalur yang mengalirkan 20% minyak dunia ini seharusnya otomatis memicu oil shock dan melambungkan harga minyak . Nyatanya harga minyak mentah internasional jenis Brent tetap anteng dan jauh dari level USD100 per barel. Begitu pula dengan minyak WTI AS yang sempat melonjak, namun langsung loyo ke bawah tren rata-ratanya.
Bahkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat sama sekali tidak peduli dengan desing peluru kendali di Timur Tengah. Investor justru lebih asyik memborong saham-saham berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang sedang naik daun.
"Dampak kerusakan ekonomi global ternyata jauh lebih kecil dari yang ditakuti sebelumnya. Dunia telah beradaptasi," tulis Pakar strategi dari Alpine Macro (bagian dari Oxford Economics), Dan Alamariu.
Menurut Alamariu, ada dua faktor utama yang membuat dunia kebal. Pertama yakni adanya rute alternatif, dimana selama empat bulan masa krisis, dunia telah berhasil memetakan ulang (rerouting) jalur ekspor minyak di luar Selat Hormuz.
Lalu ada penurunan permintaan China, sebagai negara importir minyak terbesar seperti China mampu memangkas konsumsi energi domestik mereka jauh lebih cepat dari perkiraan, sehingga tidak terjadi rebutan pasokan.
Selain itu gencatan senjata singkat selama tiga minggu sebelumnya telah dimanfaatkan oleh negara-negara produsen untuk menguras gudang mereka dan menggelontorkan minyak secara masif ke pasar global.
Presiden AS Donald Trump mengamini hal tersebut, ketika dalam konferensi persnya, Ia meremehkan potensi terjadinya krisis energi jilid dua. "Konflik ini akan selesai dengan sangat cepat. Kita memiliki banjir pasokan minyak (oil glut) saat ini karena banyaknya kapal yang berhasil lolos melintasi selat dalam beberapa minggu kemarin," tegas Trump santai.
Ekonom komoditas dari Capital Economics, Hamad Hussain mengingatkan, bahwa sanksi ekonomi Barat kini sudah kehilangan taringnya di hadapan kekuatan ekonomi baru Asia. "China kemungkinan besar akan tetap menjadi pembeli setia minyak Iran, tidak peduli apa pun status sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat," ulas Hussain tajam.
Kendati demikian, para ahli tetap memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi volatilitas harga dalam beberapa bulan ke depan. Jika pertempuran baru ini terus meluas dan berlangsung berbulan-bulan tanpa henti, barulah cadangan minyak dunia akan menipis dan harga minyak berpotensi merangkak naik kembali menuju USD100 per barel.
Apakah ketahanan ekonomi global saat ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap minyak Timur Tengah, benar-benar sudah mulai berakhir?
Namun ada satu anomali besar yang membuat para pakar ekonomi heran. Pasar keuangan global dan harga minyak dunia justru merespons situasi darurat ini dengan sangat santai!
Selat Hormuz Sepi Bak Kota Mati, tapi Harga Minyak Gagal Meroket
Berdasarkan data pelacakan kapal internasional dari Kpler, volume pelayaran di Selat Hormuz langsung anjlok drastis. Jika pada akhir Juni lalu, pergerakan kapal sempat memuncak hingga 59 lintasan per hari, pekan ini angkanya merosot tajam hanya di kisaran belasan kapal saja. Bahkan banyak kapten kapal tanker memilih mematikan transponder radar mereka agar tidak terdeteksi rudal.Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Secara teori, kelumpuhan jalur yang mengalirkan 20% minyak dunia ini seharusnya otomatis memicu oil shock dan melambungkan harga minyak . Nyatanya harga minyak mentah internasional jenis Brent tetap anteng dan jauh dari level USD100 per barel. Begitu pula dengan minyak WTI AS yang sempat melonjak, namun langsung loyo ke bawah tren rata-ratanya.
Bahkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat sama sekali tidak peduli dengan desing peluru kendali di Timur Tengah. Investor justru lebih asyik memborong saham-saham berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang sedang naik daun.
Rahasia Mengapa Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Timur Tengah
Mengapa respons pasar bisa sejinak ini? Para analis top dunia menyebut bahwa arsitektur ekonomi global telah berubah dan berhasil beradaptasi dengan guncangan geopolitik. Baca Juga: Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang"Dampak kerusakan ekonomi global ternyata jauh lebih kecil dari yang ditakuti sebelumnya. Dunia telah beradaptasi," tulis Pakar strategi dari Alpine Macro (bagian dari Oxford Economics), Dan Alamariu.
Menurut Alamariu, ada dua faktor utama yang membuat dunia kebal. Pertama yakni adanya rute alternatif, dimana selama empat bulan masa krisis, dunia telah berhasil memetakan ulang (rerouting) jalur ekspor minyak di luar Selat Hormuz.
Lalu ada penurunan permintaan China, sebagai negara importir minyak terbesar seperti China mampu memangkas konsumsi energi domestik mereka jauh lebih cepat dari perkiraan, sehingga tidak terjadi rebutan pasokan.
Selain itu gencatan senjata singkat selama tiga minggu sebelumnya telah dimanfaatkan oleh negara-negara produsen untuk menguras gudang mereka dan menggelontorkan minyak secara masif ke pasar global.
Presiden AS Donald Trump mengamini hal tersebut, ketika dalam konferensi persnya, Ia meremehkan potensi terjadinya krisis energi jilid dua. "Konflik ini akan selesai dengan sangat cepat. Kita memiliki banjir pasokan minyak (oil glut) saat ini karena banyaknya kapal yang berhasil lolos melintasi selat dalam beberapa minggu kemarin," tegas Trump santai.
Sanksi AS Jadi Mandul di Tangan China
Langkah nekat Trump yang mencabut izin penjualan minyak bebas sanksi milik Iran, hingga ancamannya untuk memblokade total dan merebut Pulau Kharg (pusat ekspor minyak Iran), juga dinilai tidak akan memicu kepanikan pasokan.Ekonom komoditas dari Capital Economics, Hamad Hussain mengingatkan, bahwa sanksi ekonomi Barat kini sudah kehilangan taringnya di hadapan kekuatan ekonomi baru Asia. "China kemungkinan besar akan tetap menjadi pembeli setia minyak Iran, tidak peduli apa pun status sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat," ulas Hussain tajam.
Kendati demikian, para ahli tetap memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi volatilitas harga dalam beberapa bulan ke depan. Jika pertempuran baru ini terus meluas dan berlangsung berbulan-bulan tanpa henti, barulah cadangan minyak dunia akan menipis dan harga minyak berpotensi merangkak naik kembali menuju USD100 per barel.
Apakah ketahanan ekonomi global saat ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap minyak Timur Tengah, benar-benar sudah mulai berakhir?
(akr)
Lihat Juga :