Daftar 7 Negara OPEC+ yang Buka Keran Minyak, Intip Angkanya
Jum'at, 10 Juli 2026 - 08:45 WIB
loading...
7 negara anggota utama OPEC+ menyatakan bakal tetap kompak menaikkan volume produksi minyak mentah mereka mulai Agustus 2026, mendatang. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Lanskap pasar energi global kembali diguncang keputusan tidak terduga. Di tengah tren merosotnya harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh level terendahnya sejak sebelum perang Amerika Serikat atau AS versus Iran pecah, aliansi negara-negara eksportir minyak raksasa justru sepakat untuk mengambil langkah berani.
Melalui pengumuman resmi pada akhir pekan kemarin, 7 negara anggota utama OPEC+ menyatakan bakal tetap kompak menaikkan volume produksi minyak mentah mereka mulai Agustus 2026, mendatang. Langkah ini menjadi keputusan ekspansi produksi selama lima bulan berturut-turut yang diambil oleh kartel minyak terbesar dunia tersebut, justru di saat harga pasar sedang tertekan hebat.
Baca Juga: Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
2. Rusia
3. Irak
4. Kuwait
5. Kazakhstan
6. Aljazair
7. Oman
"Negara-negara anggota akan terus memantau dan menilai kondisi pasar secara ketat. Dalam upaya berkelanjutan untuk mendukung stabilitas pasar, kami menegaskan kembali pentingnya mengadopsi pendekatan yang hati-hati," tulis pernyataan resmi OPEC+.
Angka ini merosot tajam dan hampir menyamai harga normal sebelum rentetan serangan udara melanda Iran pada akhir Februari lalu. Posisi ini juga berbanding terbalik dengan bulan Maret, ketika kepanikan perang sempat melambungkan harga minyak mentah hingga nyaris menyentuh USD120 per barel.
Baca Juga: OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Penurunan harga yang masif ini terjadi seiring berjalannya negosiasi kesepakatan damai final antara AS dan Iran, menyusul janji sementara yang sebelumnya telah membuka kembali blokade pelabuhan serta memulihkan jalur pelayaran kapal tanker secara bertahap di Selat Hormuz.
Meski belakangan konflik AS dan Iran kembali memanas, usai Negeri Paman Sam -julukan AS- melayangan serangan udara. Namun pergerakan naik minyak mentah dunia cenderung perlahan, seiring situasi geopolitik di Timur Tengah.
Bagi masyarakat awam, ambruknya harga minyak mentah dunia di bawah USD72 ini tentu membawa harapan akan turunnya harga BBM dan tarif transportasi. Namun, para pakar energi dunia justru memberikan peringatan pahit.
Lembaga riset terkemuka S&P Global Energy memperkirakan bahwa produksi minyak negara-negara Teluk tidak akan pulih sepenuhnya hingga setidaknya kuartal pertama tahun 2027. Akibat hantaman krisis energi yang terlanjur terjadi di awal tahun, harga bahan bakar eceran dan biaya barang konsumsi diprediksi akan tetap bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama sebelum benar-benar bisa turun melandai.
Melalui pengumuman resmi pada akhir pekan kemarin, 7 negara anggota utama OPEC+ menyatakan bakal tetap kompak menaikkan volume produksi minyak mentah mereka mulai Agustus 2026, mendatang. Langkah ini menjadi keputusan ekspansi produksi selama lima bulan berturut-turut yang diambil oleh kartel minyak terbesar dunia tersebut, justru di saat harga pasar sedang tertekan hebat.
Intip Rincian Angka dan Daftar 7 Negara yang Buka Keran Minyak
Sebanyak tujuh negara raksasa energi dipastikan terlibat langsung dalam keputusan terbaru ini. Mereka sepakat mengocorkan tambahan pasokan minyak gabungan sebesar 188.000 barel per hari ke pasar internasional.Baca Juga: Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
Ketujuh negara anggota OPEC plus yang bakal genjot produksi minyak tersebut adalah:
1. Arab Saudi2. Rusia
3. Irak
4. Kuwait
5. Kazakhstan
6. Aljazair
7. Oman
"Negara-negara anggota akan terus memantau dan menilai kondisi pasar secara ketat. Dalam upaya berkelanjutan untuk mendukung stabilitas pasar, kami menegaskan kembali pentingnya mengadopsi pendekatan yang hati-hati," tulis pernyataan resmi OPEC+.
Harga Minyak Brent Ambles di Bawah USD72 per Barel
Keputusan untuk tetap menambah pasokan ini lahir di tengah runtuhnya optimisme harga komoditas. Tak lama setelah pasar perdagangan dibuka, harga minyak mentah indeks Brent dilaporkan ambles hingga di bawah USD72 per barel.Angka ini merosot tajam dan hampir menyamai harga normal sebelum rentetan serangan udara melanda Iran pada akhir Februari lalu. Posisi ini juga berbanding terbalik dengan bulan Maret, ketika kepanikan perang sempat melambungkan harga minyak mentah hingga nyaris menyentuh USD120 per barel.
Baca Juga: OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Penurunan harga yang masif ini terjadi seiring berjalannya negosiasi kesepakatan damai final antara AS dan Iran, menyusul janji sementara yang sebelumnya telah membuka kembali blokade pelabuhan serta memulihkan jalur pelayaran kapal tanker secara bertahap di Selat Hormuz.
Meski belakangan konflik AS dan Iran kembali memanas, usai Negeri Paman Sam -julukan AS- melayangan serangan udara. Namun pergerakan naik minyak mentah dunia cenderung perlahan, seiring situasi geopolitik di Timur Tengah.
Efek Domino: Kenapa Biaya Hidup Masyarakat Masih Sulit Turun?
Meski Selat Hormuz yang mengalirkan seperlima minyak dunia mulai berdenyut kembali, volume lalu lintas kapal tanker tercatat belum pulih 100% ke level semula, akibat tensi yang masih membara di wilayah perairan tersebut. Komando militer Iran bahkan masih memberikan ancaman tegas bahwa kapal yang melintas wajib mematuhi rute resmi mereka atau menghadapi "respons paksa".Bagi masyarakat awam, ambruknya harga minyak mentah dunia di bawah USD72 ini tentu membawa harapan akan turunnya harga BBM dan tarif transportasi. Namun, para pakar energi dunia justru memberikan peringatan pahit.
Lembaga riset terkemuka S&P Global Energy memperkirakan bahwa produksi minyak negara-negara Teluk tidak akan pulih sepenuhnya hingga setidaknya kuartal pertama tahun 2027. Akibat hantaman krisis energi yang terlanjur terjadi di awal tahun, harga bahan bakar eceran dan biaya barang konsumsi diprediksi akan tetap bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama sebelum benar-benar bisa turun melandai.
(akr)
Lihat Juga :