Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli
Jum'at, 10 Juli 2026 - 14:59 WIB
loading...
A
A
A
Lebih parahnya lagi, kapal minyak Venezuela berlayar 10.000 mil ke India, terdampar dua minggu di pelabuhan, lalu pergi lagi tanpa ada satu pun yang sudi membeli.
Mengapa ini terjadi? Jawabannya adalah China sedang mogok membeli. Sebelum perang, China adalah pembeli nomor satu yang menjaga nadi minyak Timur Tengah. Saat perang pecah, impor mereka anjlok 5 juta barel per hari dan hingga lima bulan berlalu, raksasa ekonomi Asia itu tetap memilih "absen" belanja.
Namun para pedagang mengenal fenomena bernama "Rockets and Feathers": harga BBM selalu naik secepat roket saat minyak mahal, tetapi turun selambat bulu ayam jatuh ketika minyak murah.
Anjloknya harga energi ini juga membuat Bank Sentral AS (Federal Reserve) berada di posisi yang sangat rumit. Di satu sisi, minyak murah bisa menurunkan inflasi dan membuka peluang penurunan suku bunga acuan.
Pada sisi lain, The Fed trauma jika penurunan ini hanya sementara. Jika China mendadak kembali borong minyak bulan depan, harga minyak diyakini akan langsung memantul naik lagi.
Mengapa ini terjadi? Jawabannya adalah China sedang mogok membeli. Sebelum perang, China adalah pembeli nomor satu yang menjaga nadi minyak Timur Tengah. Saat perang pecah, impor mereka anjlok 5 juta barel per hari dan hingga lima bulan berlalu, raksasa ekonomi Asia itu tetap memilih "absen" belanja.
Efek Positif buat Isi Dompet
Bagi masyarakat awam, anjloknya harga minyak mentah ke level USD68 ini adalah sinyal kuat bahwa harga BBM di pom bensin akan segera turun. Penurunan harga minyak ini akan memotong biaya logistik truk, distribusi makanan, hingga sektor manufaktur.Namun para pedagang mengenal fenomena bernama "Rockets and Feathers": harga BBM selalu naik secepat roket saat minyak mahal, tetapi turun selambat bulu ayam jatuh ketika minyak murah.
Anjloknya harga energi ini juga membuat Bank Sentral AS (Federal Reserve) berada di posisi yang sangat rumit. Di satu sisi, minyak murah bisa menurunkan inflasi dan membuka peluang penurunan suku bunga acuan.
Pada sisi lain, The Fed trauma jika penurunan ini hanya sementara. Jika China mendadak kembali borong minyak bulan depan, harga minyak diyakini akan langsung memantul naik lagi.
(akr)
Lihat Juga :