Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:02 WIB
loading...
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - PT Bio Farma (Persero) resmi meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional. Peluncuran yang dikemas dalam Grand Launching Bio-TCV ini mengusung tema "Sinergi Akademisi dan Industri untuk Kedaulatan Vaksin Nasional", sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Medical Expo FKUI 2026.

Peluncuran Bio-TCV menegaskan bahwa pengembangan vaksin nasional membutuhkan kolaborasi yang erat antara industri , akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, regulator, pemerintah, serta mitra strategis global. Kehadiran Bio-TCV juga menunjukkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, transfer teknologi, uji klinis, persetujuan regulator, produksi, hingga strategi perluasan akses bagi masyarakat.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya mengatakan, demam tifoid masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara endemis. Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga memerlukan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses air bersih, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca Juga: Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group

"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010," ujar Shadiq Akasya.

"Lalu dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator. Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," sambungnya.



Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa sesuai indikasi yang telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Vaksin, Bio Farma Siapkan 3 Strategi

Indonesia sendiri masih menjadi negara endemis tifoid. Data World Health Organization (WHO) tahun 2024 menunjukkan terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid setiap tahun di dunia dengan sekitar 110 ribu kematian. Di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6% dari populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100.000 penduduk.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, penguatan kedaulatan kesehatan menjadi salah satu strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Menurutnya, kedaulatan kesehatan berarti kemampuan bangsa untuk mandiri dalam penelitian, pengembangan, dan produksi produk kesehatan strategis, termasuk vaksin.

"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," ujar Benjamin Paulus Octavianus.

Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang Bio Farma bersama International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013. Dalam prosesnya, Bio Farma juga bekerja sama dengan FKUI-RSCM untuk melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, dan regulasi.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar menegaskan, bahwa kemandirian dalam pengembangan vaksin dan obat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Menurutnya, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan.

"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku. Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti bahwa Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional," kata Taruna Ikrar.

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma terus memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan produksi vaksin nasional. Perusahaan juga tengah meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi guna memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global melalui proses WHO Prequalification serta registrasi di berbagai negara.

Selain memperkuat portofolio vaksin nasional, Bio-TCV diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi Indonesia dalam mendukung pencegahan tifoid di negara-negara dengan beban penyakit yang tinggi, khususnya di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Peluncuran Bio-TCV menjadi bukti bahwa kedaulatan vaksin nasional tidak hanya diukur dari kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri, tetapi juga dari kemampuan mengembangkan riset, menguasai teknologi, memenuhi standar regulator, memperkuat fasilitas produksi. Ditambah serta memperluas akses masyarakat terhadap vaksin yang aman, bermutu, dan berkualitas melalui sinergi berkelanjutan antara industri, akademisi, pemerintah, regulator, dan mitra global.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
JEC Eye Hospitals &...
JEC Eye Hospitals & Clinics Raih Marketeers OMNI Brands of the Year 2026
Masa Depan Kesehatan,...
Masa Depan Kesehatan, Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Bank Genomik Nasional Berjalan Optimal
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
Kolaborasi DAC dan Hisamitsu...
Kolaborasi DAC dan Hisamitsu di Kamboja, MDLA Perkuat Ekosistem Healthcare Regional
Dexa Siap Bawa OMAI...
Dexa Siap Bawa OMAI Fitofarmaka ke Pasar Global Obat Herbal
Indonesia Kembangkan...
Indonesia Kembangkan Vaksin Berteknologi mRNA untuk Antisipasi Penyakit DBD
Transformasi Layanan...
Transformasi Layanan Farmasi Jadi Fokus PIT dan Mukernas HISFARSI 2026 di Pekanbaru
Kepala BPOM: Masa Depan...
Kepala BPOM: Masa Depan Indonesia Ditentukan SDM Unggul, Bukan Lagi Kekayaan SDA
Rekomendasi
Kebakaran Landa TPA...
Kebakaran Landa TPA Cipayung Depok, 8 Unit Damkar Dikerahkan
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Etik Suryani dan Kepala Dinas PU, Sejumlah Dokumen Disita
Polda Papua: Mortir...
Polda Papua: Mortir Sisa PD II di Biak Meledak saat Digergaji 5 Orang
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved