Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:06 WIB
loading...
Lonjakan biaya logistik global akibat pengalihan jalur pelayaran internasional mulai memunculkan tekanan inflasi baru yang tidak hanya dipicu dari kenaikan harga minyak. FOTO/Unplash
A
A
A
JAKARTA - Lonjakan biaya logistik global akibat pengalihan jalur pelayaran internasional mulai memunculkan tekanan inflasi baru tidak hanya dipicu dari kenaikan harga minyak. Meningkatnya biaya pengiriman, bahan bakar, dan premi asuransi dinilai berpotensi memicu inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) yang lebih sulit dikendalikan melalui kebijakan moneter.
"Kenaikan biaya perdagangan global pada paruh pertama tahun ini sebagian didukung oleh kenaikan harga, bukan semata-mata karena meningkatnya volume perdagangan," demikian laporan Global Trade Update Juli/Agustus 2026 yang dirilis Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), dikutip dari The Guardian, Sabtu (25/7/2026).
Baca Juga: Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Tekanan terhadap biaya logistik dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Sejak akhir Februari 2026, setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu penutupan Selat Hormuz, empat perusahaan pelayaran peti kemas terbesar dunia, yakni Maersk, MSC, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd, menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kapal-kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), sehingga waktu pelayaran bertambah 10 hingga 14 hari dengan tambahan jarak sekitar 3.500 hingga 4.000 mil laut untuk rute Asia-Eropa.
Perubahan rute tersebut berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional. Tambahan konsumsi bahan bakar diperkirakan mencapai USD1,2 juta hingga USD2,5 juta untuk setiap perjalanan pulang-pergi, tergantung ukuran kapal. Di saat yang sama, premi asuransi risiko perang melonjak dari sekitar 0,25% menjadi 3% hingga 10% dari nilai kapal. Artinya, kapal tanker senilai USD100 juta kini harus membayar premi asuransi sebesar USD3 juta hingga USD10 juta dalam setiap pelayaran.
Lonjakan biaya tersebut juga tercermin pada tarif angkutan laut. Tarif pengiriman peti kemas dari Asia ke Pantai Barat AS melonjak 120% sepanjang pertengahan Mei hingga awal Juli 2026, sedangkan tarif menuju Pantai Timur naik 85% pada periode yang sama. Sementara itu, Drewry World Container Index pada 9 Juli 2026 mencapai USD4.639 per kontainer 40 kaki, tertinggi sejak September 2024.
Baca Juga: Memanas, Kuwait dan Bahrain Lancarkan Serangan Udara ke Iran
UNCTAD memproyeksikan nilai perdagangan barang global mencapai USD13,7 triliun pada semester I 2026, meningkat 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut lebih banyak didorong oleh kenaikan harga daripada pertumbuhan volume perdagangan. Di sisi lain, perdagangan jasa tumbuh 10,5%, sehingga total nilai perdagangan dunia diproyeksikan mencetak rekor baru sepanjang tahun ini.
Para analis menilai kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi bank sentral di berbagai negara. Berbeda dengan inflasi yang dipicu peningkatan permintaan, inflasi akibat melonjaknya biaya logistik, asuransi, dan energi tidak dapat diredam secara efektif hanya melalui kenaikan suku bunga.
UNCTAD juga memperingatkan pertumbuhan perdagangan global berpotensi melambat pada paruh kedua 2026 akibat tingginya biaya perdagangan dan berlanjutnya ketegangan geopolitik. Dengan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang masih sekitar 53 pelayaran per pekan atau turun sekitar 66% dibandingkan sebelum krisis, tekanan terhadap biaya logistik global diperkirakan masih akan berlanjut.
"Kenaikan biaya perdagangan global pada paruh pertama tahun ini sebagian didukung oleh kenaikan harga, bukan semata-mata karena meningkatnya volume perdagangan," demikian laporan Global Trade Update Juli/Agustus 2026 yang dirilis Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), dikutip dari The Guardian, Sabtu (25/7/2026).
Baca Juga: Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Tekanan terhadap biaya logistik dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Sejak akhir Februari 2026, setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu penutupan Selat Hormuz, empat perusahaan pelayaran peti kemas terbesar dunia, yakni Maersk, MSC, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd, menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kapal-kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), sehingga waktu pelayaran bertambah 10 hingga 14 hari dengan tambahan jarak sekitar 3.500 hingga 4.000 mil laut untuk rute Asia-Eropa.
Perubahan rute tersebut berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional. Tambahan konsumsi bahan bakar diperkirakan mencapai USD1,2 juta hingga USD2,5 juta untuk setiap perjalanan pulang-pergi, tergantung ukuran kapal. Di saat yang sama, premi asuransi risiko perang melonjak dari sekitar 0,25% menjadi 3% hingga 10% dari nilai kapal. Artinya, kapal tanker senilai USD100 juta kini harus membayar premi asuransi sebesar USD3 juta hingga USD10 juta dalam setiap pelayaran.
Lonjakan biaya tersebut juga tercermin pada tarif angkutan laut. Tarif pengiriman peti kemas dari Asia ke Pantai Barat AS melonjak 120% sepanjang pertengahan Mei hingga awal Juli 2026, sedangkan tarif menuju Pantai Timur naik 85% pada periode yang sama. Sementara itu, Drewry World Container Index pada 9 Juli 2026 mencapai USD4.639 per kontainer 40 kaki, tertinggi sejak September 2024.
Baca Juga: Memanas, Kuwait dan Bahrain Lancarkan Serangan Udara ke Iran
UNCTAD memproyeksikan nilai perdagangan barang global mencapai USD13,7 triliun pada semester I 2026, meningkat 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut lebih banyak didorong oleh kenaikan harga daripada pertumbuhan volume perdagangan. Di sisi lain, perdagangan jasa tumbuh 10,5%, sehingga total nilai perdagangan dunia diproyeksikan mencetak rekor baru sepanjang tahun ini.
Para analis menilai kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi bank sentral di berbagai negara. Berbeda dengan inflasi yang dipicu peningkatan permintaan, inflasi akibat melonjaknya biaya logistik, asuransi, dan energi tidak dapat diredam secara efektif hanya melalui kenaikan suku bunga.
UNCTAD juga memperingatkan pertumbuhan perdagangan global berpotensi melambat pada paruh kedua 2026 akibat tingginya biaya perdagangan dan berlanjutnya ketegangan geopolitik. Dengan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang masih sekitar 53 pelayaran per pekan atau turun sekitar 66% dibandingkan sebelum krisis, tekanan terhadap biaya logistik global diperkirakan masih akan berlanjut.
(nng)
Lihat Juga :