Indonesia Harus Lebih Tegas demi Dongkrak Ekspor Tekstil ke Turki

loading...
Indonesia Harus Lebih Tegas demi Dongkrak Ekspor Tekstil ke Turki
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Atase Perdagangan RI di Turki, Eric Gokasi Nababan, menyarankan pendekatan lebih tegas dari pemerintah demi mendorong peningkatan ekspor produk tekstilke Turki. Salah satu opsinya dengan retaliasi atau tindakan balasan, yaitu menghambat ekspor unggulan Turki ke Indonesia sebagai balasan sikap proteksionis yang dilakukan Turki. (Baca juga:Janji Pemerintah, Industri Tekstil RI Masuk 5 Besar Dunia di 2030)

"Beberapa negara seperti Arab Saudi, Maroko, Mesir, dan UEA memboikot produk Turki karena merugikan mereka. Selama ini Indonesia selalu menjadi good boy dalam perdagangan. Dengan mempersulit ekspornya ke Indonesia, mereka akan lebih memperhatikan komoditas tekstil kita," ujar Eric dalam webinar "Ekspor Produk Tekstil Indonesia ke Turki: Tantangan dan Peluang" di Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Dia mengatakan negara Turki sudah menerapkan kebijakan proteksionis demi melindungi industri dalam negeri, khususnya tekstil. Dalam beberapa tahun terakhir ekspor tekstil Indonesia semakin menurun dan tahun ini semakin parah akibat hambatan serta pelemahan daya beli akibat pandemi covid19.

"Periode April hingga Juni 2020 Turki mengeluarkan tujuh keputusan presiden untuk bea masuk tambahan hingga September 2020. Kemudian diperpanjang lagi hingga akhir Desember 2020. Belum lagi kebijakan trade remedies dalam bentuk safeguards. Turki hanya fokus pada kepentingan negara mereka saja," ujarnya.



Dia juga menjelaskan masih ada beberapa potensi ekspor jenis produk tekstil ke Turki. Selama ini ada beberapa produk tekstil yang menguasai pasar Turki dan ini harus dikembangkan. Strategi lain adalah pihak atase perdagangan dan KBRI akan melakukan market intelligence dengan meriset perubahan perekonomian Turki pasca-pandemi covid19 nantinya.

"Kami siapkan pihak ketiga untuk melakukan survei lapangan. Fokusnya mencari peluang pasar produk yang didominasi negara tertentu sehingga posisi produk Indonesia akan lebih kuat," ujarnya.

Sementara Kementerian Perdagangan terus mendorong industri tekstil dalam negeri agar bisa masuk ke rantai pasok di Turki. Berbagai rencana negosiasi dagang hingga pendekatan politik sudah disiapkan.



Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Marthin Kalit mengatakan, pasar Turki memiliki potensi cukup besar bagi industri tekstil Indonesia.
"Wilayah Turki membentang dari Eropa sampai ke Asia Barat sehingga menjadi hub yang penting untuk menembus pasar Timur Tengah dan bahkan Afrika bagian utara," kata Marthin.

Selain itu, Turki merupakan produsen tekstil dan garmen utama dunia. Negara tersebut merupakan pemasok keenam terbesar dunia dan ketiga di Eropa."Dengan demikian, eksportir Indonesia bisa jadi pemasok bahan baku atau intermediate goods sehingga bisa masuk ke dalam rantai nilai pasok Turki," katanya. (Baca juga:Murka Disebut Teroris, Erdogan Tuntut Politisi Anti Islam Belanda)

Marthin mengungkapkan, serat staple buatan merupakan salah satu produk ekspor terbesar Indonesia ke Turki pada 2019 dengan nilai USD366 juta. Ada pun pada periode Januari-Agustus 2020, nilai ekspor produk tekstil Indonesia ke Turki mengalami penurunan signifikan sebesar 49,79% yoy dengan nilai USD168,9 juta.

Namun pasar Turki merupakan pasar yang cukup menantang. Turki hanya mengikatkan 50,5% tarif bea masuk impornya kepada WTO."Artinya, sejumlah 49,5% pos tarif Turki bebas dinaikkan atau turunkan bea masuk impornya sesuai kepentingan nasionalnya tanpa digugat oleh negara anggota WTO lain," jelasnya.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top