IHSG Berpotensi Reli di 6.020-6.084, Cermati Saham Berikut Ini
Jum'at, 16 Juli 2021 - 08:21 WIB
loading...
A
A
A
Sebelumnya, IHSG ditutup naik 67,54 poin atau 1,13 persen ke level 6.046 setelah bergerak menguat sejak awal sesi perdagangan. IHSG membalikan kerugian yang terjadi pada perdagangan sebelumnya akibat aksi jual investor yang kehilangan sedikit kepercayaan investasinya ditengah badai kasus covid-19 di Indonesia.
Saham-saham perbankan berhasil mendorong IHSG hingga menguat sepersen dimana saham BBCA (+2,1%), BBRI (+2,7%), BMRI (+3,1%) dan ARTO (+3,8%) naik optimis dan menjadi leader penguatan.
Investor asing melakukan aksi beli bersih sebesar Rp555,34 miliar. Data neraca perdagangan alami penurunan surplus di bulan Juni 2021 sebesar USD1,32 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD2,37 miliar sehingga total surplus neraca perdagangan semester 1 2021 mencapai USD11,86 miliar.
Kenaikan tertinggi terjadi pada ekspor sektor pertanian mencapai 33%, disusul migas 27,23%, pertambangan 11,75%, dan industri pengolahan 7,34%. Sedangkan dibandingkan Juni 2020, kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada sektor migas mencapai 117,15%, disusul pertambangan 92,8%, industri pengolahan 45,92%, dan pertanian 33,04%.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 14 Bulan Beruntun, Ekonomi Mulai Pulih?
Saham-saham perbankan berhasil mendorong IHSG hingga menguat sepersen dimana saham BBCA (+2,1%), BBRI (+2,7%), BMRI (+3,1%) dan ARTO (+3,8%) naik optimis dan menjadi leader penguatan.
Investor asing melakukan aksi beli bersih sebesar Rp555,34 miliar. Data neraca perdagangan alami penurunan surplus di bulan Juni 2021 sebesar USD1,32 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD2,37 miliar sehingga total surplus neraca perdagangan semester 1 2021 mencapai USD11,86 miliar.
Kenaikan tertinggi terjadi pada ekspor sektor pertanian mencapai 33%, disusul migas 27,23%, pertambangan 11,75%, dan industri pengolahan 7,34%. Sedangkan dibandingkan Juni 2020, kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada sektor migas mencapai 117,15%, disusul pertambangan 92,8%, industri pengolahan 45,92%, dan pertanian 33,04%.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 14 Bulan Beruntun, Ekonomi Mulai Pulih?
Lihat Juga :