Ngeri! Asia Tenggara Bisa Tekor Rp952 Kuadriliun Jika Abaikan Perubahan Iklim
Jum'at, 03 September 2021 - 15:03 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, menurut perkiraan Deloitte, perubahan iklim juga akan mengurangi pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,5% setiap tahun dalam periode yang sama.
Asia Tenggara adalah rumah bagi setengah miliar orang dan memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar USD3 triliun. Wilayah yang didefinisikan dalam laporan sebagai Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Vietnam, Timor-Leste dan Thailand ini telah menikmati pertumbuhan PDB tahunan rata-rata 5% hingga 12% sejak abad 21.
“Namun perubahan iklim yang tak tanggung-tanggung mengancam akan menghapus puluhan tahun pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dengan susah payah di Asia Tenggara,” kata Deloitte.
Fondasi kemakmuran kawasan ini, yakni sumber daya alam dan manusia, berada dalam risiko. Bersamaan dengan itu standar hidup setiap negara, prospeknya untuk pertumbuhan di masa depan, tempatnya di panggung global, dan kesejahteraan rakyatnya juga menghadapi risiko.
Dari pertanian hingga pariwisata, kelambanan penanganan perubahan iklim akan menyebabkan gangguan besar karena hilangnya mata pencaharian karena naiknya permukaan laut dan bencana alam.
Asia Tenggara adalah rumah bagi setengah miliar orang dan memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar USD3 triliun. Wilayah yang didefinisikan dalam laporan sebagai Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Vietnam, Timor-Leste dan Thailand ini telah menikmati pertumbuhan PDB tahunan rata-rata 5% hingga 12% sejak abad 21.
“Namun perubahan iklim yang tak tanggung-tanggung mengancam akan menghapus puluhan tahun pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dengan susah payah di Asia Tenggara,” kata Deloitte.
Fondasi kemakmuran kawasan ini, yakni sumber daya alam dan manusia, berada dalam risiko. Bersamaan dengan itu standar hidup setiap negara, prospeknya untuk pertumbuhan di masa depan, tempatnya di panggung global, dan kesejahteraan rakyatnya juga menghadapi risiko.
Dari pertanian hingga pariwisata, kelambanan penanganan perubahan iklim akan menyebabkan gangguan besar karena hilangnya mata pencaharian karena naiknya permukaan laut dan bencana alam.
Lihat Juga :