ASEAN Butuh Dana Besar Lawan Dampak Perubahan Iklim

Rabu, 27 Oktober 2021 - 21:16 WIB
loading...
ASEAN Butuh Dana Besar Lawan Dampak Perubahan Iklim
ASEAN memegang peranan penting dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim. FOTO/SINDOnews
A A A
JAKARTA - ASEAN memegang peranan penting dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Pasalnya korban bencana akibat perubahan iklim terus bertambah setiap tahun. Utamanya di kawasan Asia Tenggara rentan terhadap angin topan, banjir, gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi.

"ASEAN berperan penting memainkan ini. Dalam 9 tahun ke depan, kita perlu mengurangi emisi global sekitar 95%," kata Global Head Sustainable Finance Standard Chartered Daniel Hanna saat diskusi virtual ASEAN Business Forum 2021 bertajuk Opportunity Beyond Borders baru-baru ini.



Sebab itu, negara-negara di Asia Tenggara perlu segera beraksi mengimplementasikan program dekarbonisasi termasuk dengan memberikan pendanaan yang lebih besar. Di samping itu juga membentuk program boundary carbon market dengan standar tinggi dikombinasikan dengan teknologi. "Secara kritikal, secepatnya kita harus menghentikan emisi karbon. Dunia sudah seharusnya memulihkan bersama-sama," kata dia.

Head of South East Asia COP26 Strategy, British High Commision Singapore Issabelle de Lovinvosse memandang bahwa ASEAN belum serius memerangi perubahan iklim. Hal itu bisa dilihat dari sisi pendanaan yang masih minim untuk mendukung investasi hijau. Padahal untuk memerangi peruanah iklim ASEAN membutuhkan dana yang besar.

Untuk itu, perlu ditumbuhkan awareness yang tinggi untuk mempercepat program-program energi hijau seperti mengoptimalkan subsidi dan mendorong secara massif proyek energi baru terbarukan secara mainstream di ASEAN. Bagi negara yang masih melakukan subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara sadar harus segera dialihkan ke energi hijau. "Pemerintah bisa mendukung lewat subsidi untuk mendukung bisnis dan inovasi energi agar tidak menjadi suatu keniscayaan," kata dia.



Pada kesempatan yang sama, Chief Environmental Officer Microsoft Lucas Joppa mengatakan, mewujudkan program memerangi perubahan iklim tidak mudah. Di sisi bisnis, memiliki risiko besar karena perusaan dituntut bertransformasi digital secara besar-besaran.

"Kita harus berfikir soal transformasi bisnis hingga dampak terhadap perubahan sosial. Sehingga perlu keasadaran bersama terhadap dampak perubahan iklim bukan sekedar culture point," kata dia.

Sementara itu, Vice President Director Indika Energy Azis Armand mengungkapkan strategi melakukan transformasi di lingkungan perusahaan. Pertama dengan mengurangi carbon footprint. Tak hanya holding tapi juga hingga anak usaha. "Ini komitmen kami secara berkelanjutan," kata dia.
(nng)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2023 SINDOnews.com
All Rights Reserved