Ramalan Pertumbuhan Ekonomi, Bakal Melambat di Kuartal III 2021
Jum'at, 05 November 2021 - 07:45 WIB
loading...
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 diperkirakan berkisar 3,48% (year on year /yoy), atau melambat dari kuartal sebelumnya. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 diperkirakan berkisar 3,48% (year on year /yoy), atau melambat dari kuartal sebelumnya tercatat 7,07% yoy. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menerangkan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diproyeksi berkisar 3,44% yoy dari kuartal sebelumnya 5,93% yoy.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Pandemi Terkendali, Airlangga: Bukti Kebijakan Pemerintah Tepat
Perlambatan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh penurunan mobilitas masyarat sepanjang kuartal III dibandingkan dengan kuartal II, mengingat pemerintah memberlakukan PPKM Darurat yang dilanjutkan PPKM Level 3 dan 4 pada kuartal III.
"Penurunan mobilitas masyarakat tersebut berpengaruh terhadap penurunan indeks kepercayaan konsumen dan penjualan eceran," kata Josua saat dihubungi MNC Jakarta, Jumat (5/11/2021).
Dari konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil ritel tercatat naik sekitar 82% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 194% yoy. Penjualan motor sepanjang kuartal II-2021 juga mengalami pertumbuhan signifikan yakni 32% yoy dari kuartal sebelumnya 269% yoy.
Meskipun demikian, impor barang konsumsi sepanjang kuartal III tahun 2021 tercatat tumbuh positif sebesar 54,7% yoy, meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 31,5% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada kuartal ketiga 2021 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,6%yoy, melambat dari kuartal sebelumnya yang tercatat 7,54%. Perlambatan ini dapat terindikasi pertumbuhan konsumsi semen yang tercatat 3,3% yoy pada Juli hingga September dari kuartal sebelumnya sebesar 12,2% yoy.
"Meskipun demikian, investasi non-bangunan cenderung meningkat terindikasi dari penjualan alat berat pada 3Q21 yang tercatat 179% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 107,3% yoy," katanya.
Baca Juga: Meski Ngedeprok di Anak Tangga, Sri Mulyani Tetap Dipuji
Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung melambat menjadi -2,72% yoy sejalan dengan belanja pemerintah pada Juli-September 21 yang tercatat -17,5% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 5% yoy.
Laju pertumbuhan belanja barang, belanja modal dan belanja pegawai cenderung melambat dari laju pertumbuhannya pada kuartal sebelumnya. Hanya belanja pembayaran bunga utang yang tercatat meningkat pada kuartal III-2021.
Sementara itu, net expor juga diperkirakan tumbuh solid sejalan dengan laju pertumbuhan ekspor non-migas yang meningkat ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas global.
Jadi pendorong utama perekonomian kuartal III-2021 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi dan net ekspor.
Lebih lanjut, sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat pada awal kuartal IV-2021 dan didukung juga oleh kebijakan penurunan PPKM level oleh pemerintah di berbagai daerah, maka pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 diperkirakan akan meningkat dibandingkan kuartal III-2021. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 3,4-3,8%.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Pandemi Terkendali, Airlangga: Bukti Kebijakan Pemerintah Tepat
Perlambatan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh penurunan mobilitas masyarat sepanjang kuartal III dibandingkan dengan kuartal II, mengingat pemerintah memberlakukan PPKM Darurat yang dilanjutkan PPKM Level 3 dan 4 pada kuartal III.
"Penurunan mobilitas masyarakat tersebut berpengaruh terhadap penurunan indeks kepercayaan konsumen dan penjualan eceran," kata Josua saat dihubungi MNC Jakarta, Jumat (5/11/2021).
Dari konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil ritel tercatat naik sekitar 82% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 194% yoy. Penjualan motor sepanjang kuartal II-2021 juga mengalami pertumbuhan signifikan yakni 32% yoy dari kuartal sebelumnya 269% yoy.
Meskipun demikian, impor barang konsumsi sepanjang kuartal III tahun 2021 tercatat tumbuh positif sebesar 54,7% yoy, meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 31,5% yoy.
Pertumbuhan PMTB/Investasi pada kuartal ketiga 2021 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,6%yoy, melambat dari kuartal sebelumnya yang tercatat 7,54%. Perlambatan ini dapat terindikasi pertumbuhan konsumsi semen yang tercatat 3,3% yoy pada Juli hingga September dari kuartal sebelumnya sebesar 12,2% yoy.
"Meskipun demikian, investasi non-bangunan cenderung meningkat terindikasi dari penjualan alat berat pada 3Q21 yang tercatat 179% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 107,3% yoy," katanya.
Baca Juga: Meski Ngedeprok di Anak Tangga, Sri Mulyani Tetap Dipuji
Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung melambat menjadi -2,72% yoy sejalan dengan belanja pemerintah pada Juli-September 21 yang tercatat -17,5% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 5% yoy.
Laju pertumbuhan belanja barang, belanja modal dan belanja pegawai cenderung melambat dari laju pertumbuhannya pada kuartal sebelumnya. Hanya belanja pembayaran bunga utang yang tercatat meningkat pada kuartal III-2021.
Sementara itu, net expor juga diperkirakan tumbuh solid sejalan dengan laju pertumbuhan ekspor non-migas yang meningkat ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas global.
Jadi pendorong utama perekonomian kuartal III-2021 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi dan net ekspor.
Lebih lanjut, sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat pada awal kuartal IV-2021 dan didukung juga oleh kebijakan penurunan PPKM level oleh pemerintah di berbagai daerah, maka pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 diperkirakan akan meningkat dibandingkan kuartal III-2021. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 3,4-3,8%.
(akr)
Lihat Juga :