PHM Pikat Anak Muda Tekuni Sektor Pertanian lewat Program Petani Maju 4.0
Jum'at, 03 Desember 2021 - 23:35 WIB
loading...
A
A
A
Frans mengatakan, harapannya pada tahun 2022, program Petani Maju 4.0 dapat menjadi rujukan dan wilayah percontohan agrowisata ramah lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara. Guna menarik minat para pemuda untuk kembali menggeluti sektor pertanian, PHM banyak mengenalkan aspek teknologi di dalam program ini.
Teknik yang diperkenalkan pada program ini adalah pertanian pertakultur yang ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keberlanjutan. Teknik pertanian ini salah satunya menerapkan pemanfaatan bahan dan alat pertanian yang diproduksi sendiri oleh kelompok tani. Selain itu, aspek teknologi lainnya juga dikenalkan untuk memberikan hasil yang lebih optimal.
PHM membina dua kelompok tani yang menguasai pengetahuan bertani dengan teknik pertakultur. Salah satunya, dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik yang diproduksi secara mandiri. Saat ini, kelompok tani tersebut telah mampu memproduksi pupuk organik cair (PCO) hingga 500 liter per bulan. Kelompok petani binaan ini juga dilatih memproduksi media tanam secara mandiri, yang kini mencapai 300 kg per bulan.
"Dari kedua material pendukung tersebut, kelompok tani saat ini bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp9,6 juta per tahun," ungkap Frans.
Kelompok petani di Kampung Kamal kini juga memasok kebutuhan sayur mayur dan buah buahan yang mereka hasilkan untuk katering PHM melalui kontraktor perusahaan jasa katering yang melayani perusahaan di fasilitas BSP. "Dengan demikian Kelompok Tani Kampung Kamal juga ikut mendukung kegiatan operasi perusahaan melalui pasokan buah-buahan dan sayuran seperti; pepaya, nenas, tomat, timun, terong dan lain lain," paparnya.
Teknik yang diperkenalkan pada program ini adalah pertanian pertakultur yang ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keberlanjutan. Teknik pertanian ini salah satunya menerapkan pemanfaatan bahan dan alat pertanian yang diproduksi sendiri oleh kelompok tani. Selain itu, aspek teknologi lainnya juga dikenalkan untuk memberikan hasil yang lebih optimal.
PHM membina dua kelompok tani yang menguasai pengetahuan bertani dengan teknik pertakultur. Salah satunya, dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik yang diproduksi secara mandiri. Saat ini, kelompok tani tersebut telah mampu memproduksi pupuk organik cair (PCO) hingga 500 liter per bulan. Kelompok petani binaan ini juga dilatih memproduksi media tanam secara mandiri, yang kini mencapai 300 kg per bulan.
"Dari kedua material pendukung tersebut, kelompok tani saat ini bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp9,6 juta per tahun," ungkap Frans.
Kelompok petani di Kampung Kamal kini juga memasok kebutuhan sayur mayur dan buah buahan yang mereka hasilkan untuk katering PHM melalui kontraktor perusahaan jasa katering yang melayani perusahaan di fasilitas BSP. "Dengan demikian Kelompok Tani Kampung Kamal juga ikut mendukung kegiatan operasi perusahaan melalui pasokan buah-buahan dan sayuran seperti; pepaya, nenas, tomat, timun, terong dan lain lain," paparnya.
Lihat Juga :