alexametrics

Defisit perdagangan Jepang USD37,3 M

loading...
Defisit perdagangan Jepang USD37,3 M
ilustrasi Foto: Corbis
A+ A-
Sindonews.com – Jepang membukukan rekor defisit perdagangan sebesar 2,9 triliun yen (USD37,3 miliar) pada semester I/2012 akibat melonjaknya biaya energi disertai turunnya ekspor ke pasar utama Eropa.

Data terbaru yang dirilis Departemen Keuangan Jepang kemarin merupakan defisit terbesar sejak data eksporimpor dikompilasikan pada 1979 silam. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa krisis Eropa masih membebani perekonomian negara terbesar ketiga di dunia tersebut. Departemen Keuangan Jepang menyatakan, ekspor semester I/2012 turun 2,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara, impor melonjak 13,1 persen dipicu pembelian gas alam cair yang naiknya hampir 50 persen serta peningkatan pembelian minyak mentah yang mencapai 16 persen. Jepang telah berjuang memenuhi kebutuhan energinya menggunakan bahan bakar mahal alternatif pascarusaknya reaktor nuklir Fukushima Daiichi akibat gempa dan tsunami tahun lalu. Sampai saat ini sebanyak 50 reaktor nuklir di Jepang tidak bekerja dan hanya dua reaktor yang diaktifkan sehingga masih harus mengandalkan minyak dan gas untuk memasok listrik.



Kepala ekonom RBS Securities Junko Nishioka mengatakan, neraca perdagangan Jepang terus menunjukkan melemahnya tren ekspor serta kepekaan ekstrem dalam harga impor, seperti minyak mentah. “Krisis di Eropa memunculkan risiko yang berkembang terhadap skenario pemulihan ekonomi Tokyo,” ujar dia dikutip AFP kemarin.

Menurut Departemen Keuangan Jepang, surplus perdagangan Jepang dengan Uni Eropa pada semester I/2012 merupakan yang terendah. Pada Juni lalu Jepang membukukan surplus 61,7 miliar yen, lebih baik dibanding ekspektasi pasar yang meramalkan defisit 135 miliar yen. Data resmi Juni merupakan surplus pertama dalam empat bulan, dengan peningkatan ekspor kendaraan dan suku cadang mobil.

Sementara, BBC melaporkan nilai tukar yen berada pada tingkat tertinggi selama satu dekade terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan euro sehingga merugikan eksportir Jepang. Pasalnya, dengan tingginya yen, produk-produk Jepang yang dijual di luar negeri menjadi mahal sehingga sulit bersaing. Meski begitu,beberapa perusahaan Tokyo seperti Canon dianggap telah melawati masamasa penjualan cukup baik. “Perusahaan tersebut sangat mengesankan,” imbuh penasihat investasi Rogers Tokyo, Ed Rogers.

Pada bagian lain, permintaan dalam negeri Jepang yang didorong oleh rekonstruksi dan meningkatnya pertumbuhan dalam belanja konsumen telah mendukung kenaikan perekonomian Jepang pada tahun ini. Tetapi, melemahnya permintaan luar negeri diperkirakan menjadi penghambat ekonomi sehingga dibutuhkan langkah-langkah kebijakan baru untuk mendukung pertumbuhan.

Ekonom Senior Mizuho Research Institute Yasuo Yamamoto mengungkapkan,ekspor tetap lemah sehingga Pemerintah Jepang tidak dapat berharap banyak dari permintaan eksternal untuk mendorong perekonomian pada semester II/2012 atau sampai Maret tahun 2013.“Hal tersebut disebabkan konsumsi swasta akan kehilangan momentum karena kehabisan subsidi untuk mobil dengan emisi rendah,”paparnya.

Dia menambahkan, pihaknya tidak yakin ekonomi Jepang akan masuk kembali ke dalam resesi. Meski demikian, tidak bisa disangkal masih ada kemungkinan yang tidak sepenuhnya bisa dikesampingkan, tergantung pada perkembangan krisis Eropa serta perlambatan pemulihan ekonomi di AS dan China.

Menurut kantor berita Reuters, ekonomi Jepang masih diprediksi mengungguli sebagian besar negara-negara maju lainnya tahun ini berkat permintaan domestik yang solid.
(and)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak