alexametrics

Pasar industri farmasi diperkirakan tumbuh 17%

loading...
Pasar industri farmasi diperkirakan tumbuh 17%
Ilustrasi
A+ A-
Sindonews.com - Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Linda Sitanggang mengatakan pasar industri farmasi nasional diperkirakan bisa bertumbuh hingga 17 persen pada tahun ini. Pertumbuhan pasar industri farmasi pada tahun lalu adalah sekitar 11-12 persen.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan negara ASEAN lainnya. "Pasar industri farmasi di Indonesia didorong oleh bertambahnya penduduk yang berusia 65 tahun keatas dan juga dalam rangka menyambut Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Saat ini ada sekitar 208 perusahaan farmasi di Indonesia," kata Linda di Pandaan, Jawa Timur, Selasa (9/10/2012).

Dia berharap, investasi di industri farmasi bisa lebih gencar dilakukan di sektor hulunya. Sehingga, kata dia, diharapkan semakin banyak riset yang dilakukan untuk memperkuat sektor hulu industri farmasi.



Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Ratnadewi Indriani mengatakan, pembebasan bea masuk untuk bahan baku impor diharapkan bisa didapatkan oleh pelaku usaha farmasi di Indonesia sehingga bisa memacu arus investasi.

"Investasi pada tahun depan diharapkan bisa mencapai sekitar Rp300 triliun, sehingga peluang investasi di dalam negeri masih sangat bagus," ujarnya.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Farmasi memperkirakan, penjualan industri farmasi nasional bisa mencapai USD4,9 miliar.

Ketua Gabungan Pengusaha Farmasi Kedrariadi Suhanda mengatakan, berdasarkan kontribusi, perusahaan multinasional diperkirakan bisa mencapai sekitar 23-24 persen dari USD4,9 miliar.

"Pangsa pasar industri farmasi Indonesia pada tahun ini diperkirakan sekitar USD4,7-4,9 miliar atau 0,4-0,5 persen dibandingkan pangsa pasar dunia yang mencapai USD800 miliar,” jelasnya.
(gpr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak