alexametrics

Lumpur Lapindo kubur cadangan migas berlimpah

loading...
Lumpur Lapindo kubur cadangan migas berlimpah
Ilustrasi
A+ A-
Sindonews.com - Kandungan minyak dan gas (migas) di kawasan semburan lumpur dan sekitarnya diprediksi sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan keluarnya gas dari pusat semburan yang berlangsung lebih dari enam tahun. Penelitian yang dilakukan Kementrian ESDM juga menunjukkan jika kandungan migas dibeberapa kawasan di Sidoarjo sangatlah besar.

Sayangnya untuk mengelola gas alam tersebut belum bisa dilakukan. Tak lain karena pembayaran ganti rugi warga korban lumpur belum tuntas. Selain itu, belum ada methode yang tepat untuk mengeksplorasi gas dari pusat semburan lumpur itu. Sebab, kawasan sekitar lumpur rentan terjadi penurunan tanah (subsidence).

Sebenarnya untuk memperkirakan berapa besar kandungan migas di bawah pusat semburan lumpur harus dilakukan uji seismic. Namun, ketika tim dari Geologi Kementrian ESDM dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) akan menguji seismic ditentang oleh warga.
"Sebenarnya kalau bisa dilakukan uji seismic, akan diketahui berapa cadangan migas di bawah lumpur itu," ujar Kabid ESDM Dinas Koperasi Perindustrian dan ESDM Pemkab Sidoarjo, Agus Darsono.



Meski demikian, diperkirakan kandungan gas disekitar areal lumpur cukup besar. Hal ini bisa dilihat dari semburan lumpur dan gas yang setiap harinya bisa mencapai 100 ribu meter kubik dan sudah menyembur lebih dari enam tahun. Bahkan, karena besarnya kandungan gas, bermunculan gas liar di areal lumpur dengan radius 1 kilometer.

Kandungan migas di sekitar semburan lumpur diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan beberapa kawasan di Sidoarjo yang terdapat cadangan migas. Seperti di kawasan Tanggulangin Field, Wunut Field, kawasan Carat yang berbatasan dengan Mojokerto dan kini juga ditemukan lagi cadangan migas di Kepetingan Field yang berada di pesisir timur Sidoarjo.

Cadangan migas di Tanggulangin Field sejauh ini terdeteksi sebesar 7 BSCF (Billion Standard Cubic Feed) dan di Wunut Field terdapat 6 BSCF. Sedangkan untuk Kepetingan Field belum bisa diketahui karena belum dilakukan pengeboran. Namun, kandungan migasnya diperkirakan cukup besar.

Bahkan, Lapindo Brantas Inc selaku perusahaan pertambangan yang memiliki izin eksplorasi di blok Brantas, optimis jika ekplorasi migas di kawasan Sidoarjo dimaksimalkan daalam sehari bisa memproduksi 20 juta kaki kubik. Bukan hanya gas, melainkan juga minyak yang terkandung di beberapa titik.

"Selama ini migas yang diekplorasi baru kedalaman 1000 meter atau 3000 feed. Masih ada dua lapisan lagi yang belum diekplorasi, yaitu dengan kedalaman 6000 feed dan 11 ribu feed," urai Agus Darsono.

Sebenarnya upaya untuk mengekplorasi migas sampai kedalaman 11 ribu feed sudah dilakukan Lapindo Brantas Inc di sumur Banjar Panji 1, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Namun, malah berujung bencana semburan lumpur yang menenggelamkan sekitar 700 hektar kawasan di sekitar Porong.

Hasil penelitian ESDM, lanjut Agus Darsono tidak ada konektifitas antara kawasan semburan lumpur dengan lokasi migas di Tanggulangin Field maupun Wunut Field. Sehingga, jika dilakukan eksplorasi sampai kedalaman 11 ribu feed di dua titik itu tidak ada masalah.

"Masih aman kalau dilakukan eksplorasi di Wunut maupun Tanggulangin. Masalahnya, warga masih trauma ata munculnya semburan lumpur sehingga mereka menolak rencana eksplorasi yang akan dilakukan Lapindo," beber Agus Darsono.

Sedangkan di Sidoarjo selama ini terdapat sebanyak 21 sumur di blok Wunut dan sekitarnya dan di blok Tanggulangin terdapat 5 sumur. Semua sumur itu dioperasikan oleh Lapindo Brantas Inc. Selama ini Sidoarjo yang merupakan blok Brantas merupakan daerah kerja perusahaan Bakrie Grup tersebut.

Kini di blok Tanggulangin, kawasan Kalidawir yang beroperasi tinggal tiga sumur dan di Wunut tinggal 11 sumur gas atau cadangannya sekitar 2 BSCF. Diperkirakan jika diekplorasi terus, gas di sumur-sumur itu baru habis dalam jangka waktu 5 tahun lagi. Sehingga perlu adanya eksplorasi sumur migas baru untuk memenuhi kebutuhan gas Nasional.

Padahal, selama ini dari sumur gas Lapindo ini digunakan untuk menyuplai kebutuhan gas rumah tangga sesuai program pemerintah City Gas. Belum lagi, suplai gas untuk keperluan perusahaan.

Untuk gas rumah tangga, selama ini ada sebanyak 2900 samburan gas rumah tangga di kawasan Kali Rungkut, Surabaya. Kemudian, kawasan Ngingas dan Wedoro, Kecamatan Waru sebanyak 4000 SR (sambungan rumah tangga), kawasan Medaeng dan Tambaksawah, Kecamatan Waru sebanyak 2500 SR.

Untuk program City Gas tahap tiga juga dipasang sebanyak 2500 SR, di kawasan Kalidawir, Tanggulangin, Kludan, Ngaban, Gempolsari dan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Demikian pula di Desa Kedungturi dan Taman, Kecamatan Taman juga dipasang sebanyak 2500 SR. Untuk keperluan pemenuhan gas SR ini, disuplai 2 BSCF dari sumur Lapindo.

External Humas Lapindo Brantas Inc, Anita Ariyani mengakui untuk memenuhi kebutuhan gas nasional pihaknya perlu adanya perluasan sumur. Dalam hal ini dengan eksplorasi sumur-sumur yang ada di kawasan Tanggulangin. Namun, eksplorasi itu masih terkendala belum keluarnya izin karena sebagian warga masih menolak.

"Jika tidak ada ekplorasi sumur migas, cadangan gas di sumur kita semakin sedikit dan dikhawatirkan tidak akan bertahan lebih dari 5 tahun," ujarnya.
(gpr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak