alexametrics

Pemerintah dorong ekonomi kreatif

loading...
Pemerintah dorong ekonomi kreatif
Ilustrasi
A+ A-
Sindonews.com - Ekonomi kreatif dinilai mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk itu, berbagai masalah yang menghambat pengembangan industri kreatif harus diatasi.

Masalah-masalah tersebut antara lain perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), infrastruktur teknologi informasi, akses dan bantuan permodalan, pengembangan sumber daya manusia (SDM) kreatif, serta kurangnya apresiasi terhadap karya insan kreatif.

Menurut Wakil Presiden Boediono, masalah SDM terutama disebabkan sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di Indonesia belajar secara autodidak sehingga kualitas produk yang dihasilkan belum merata.



“Kita akan terus kembangkan ekonomi kreatif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara sistematis dan terkoordinasi,” ujar Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono saat membuka Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, kemarin.

Boediono mengungkapkan, ekonomi kreatif merupakan sektor yang menjanjikan. Dengan dukungan penduduk usia muda Indonesia yang mencapai 43 persen dari populasi, ia yakin 20 tahun ke depan produk hasil SDM kreatif Indonesia akan sangat berperan dalam menjadikan perekonomian Indonesia sebagai salah satu yang diperhitungkan di dunia.

“Maka itu, potensi kreatif ini harus ada di dalam setiap pengembangan ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah bertugas memfasilitasi,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Pangestu mengatakan, PPKI yang digelar pada 21-25 November merupakan kegiatan tahunan yang ditujukan untuk membangun ekonomi kreatif.

Ajang yang didukung 14 kementerian/lembaga ini dikemas secara komplet, mulai pameran, pertunjukan, seminar internasional, konvensi, workshop, temu bisnis, bincang-bincang, kompetisi, hingga casting film. “Bagi pelaku UKM yang ingin mendaftar HAKI, bisa dilakukan secara gratis di sini,” ungkapnya.

Mari berharap PPKI juga bisa menjadi media yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan pasar, komunitas dan sektor terkait. Sebab, ide-ide kreatif hanya akan berkembang manakala ada kolaborasi dengan komunitas, serta dukungan investor dan pasar.

Mari menambahkan, ekonomi kreatif yang mencakup 15 subsektor merupakan sektor keempat terbesar dari 10 sektor ekonomi nasional dalam hal penyerapan tenaga kerja setelah sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa.

Ke-15 subsektor tersebut adalah kuliner; riset dan pengembangan; TV dan radio; teknologi informasi; penerbitan dan percetakan; seni pertunjukan; musik; permainan interaktif; film, video dan fotografi; fashion; desain; kerajinan; seni rupa; arsitektur; dan periklanan.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor kuliner tahun lalu merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar di antara 14 subsektor lainnya, yakni sebesar 32,2 persen. Adapun, fashion dan kerajinan berada di urutan kedua sebesar 28,1 persen dan 15,1 persen.

Sementara, subsektor yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah fashion,kuliner dan kerajinan dengan pertumbuhan tertinggi di subsektor kerajinan sebesar 1,42 persen.

Sebagai wujud apresiasi pengembangan ekonomi kreatif di daerah, PPKI 2012 yang mengambil tema Indonesia Creative Power: “Yang Muda Yang Berkreasi” juga memberikan Penghargaan Bascha Caraka kepada Kabupaten yang unggul dalam menciptakan iklim budaya kreatif.

Dari 38 Kabupaten peserta yang berasal dari 14 provinsi, penghargaan diraih oleh Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kotamadya Tangerang, Provinsi Banten.

Bupati Sleman Sunartono mengatakan, bantuan pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Sleman terutama ditunjukan bagi kelompok usaha rumahan yang tergolong usaha kecil dan menengah (UKM). Wujudnya antara lain bantuan dana pemberdayaan bagi kelompokkelompok usaha secara bergilir.

Manakala usaha sudah berkembang, pemerintah bekerja sama dengan perbankan tetap membantu permodalan ringan yang dinamai “kredit sepisan” atau disingkat krisan.

“Kami melihat ada potensi luar biasa di sektor industri kreatif. Ke depan, kami akan canangkan one village one product, sehingga nantinya setiap desa punya ikon produk kreatif sesuai karakter di desa masingmasing,” jelasnya.
(gpr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak