alexa snippet

Bursa berjangka RI berpotensi jadi acuan harga dunia

Bursa berjangka RI berpotensi jadi acuan harga dunia
ilustrasi/ist
A+ A-
Sindonews.com - Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Sutriono Edi mengatakan, industri perdagangan berjangka komoditi Indonesia, masih memiliki potensi sangat besar untuk menjadi acuan harga dunia.

Hal tersebut mengingat Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, baik yang terbarukan (produk pertanian seperti kakao, kopi, dan minyak sawit mentah) serta tidak terbarukan (pertambangan dan mineral seperti emas, timah, batu bara, nikel, dan bauksit).

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya optimal dikembangkan. Karena masih cukup banyak komoditi andalan ekspor yang belum menjadi subyek kontrak berjangka di bursa berjangka. 

"Saat ini banyak sekali komoditi ekspor Indonesia yang diperdagangkan di bursa berjangka luar negeri. Karena itu diharapkan bursa berjangka di Indonesia bekerja keras menciptakan subyek kontrak berjangka. Tujuannya agar harga yang tercipta di bursa dapat menjadi acuan harga  dunia bagi perdagangan komoditi," kata Edi dalam rislianya, Senin (24/2/2014). 

Menurutnya, harga crude palm oil (CPO) yang diperdagangkan di bursa berjangka komoditi Indonesia sudah menjadi harga patokan ekspor. Sementara, kakao menjadi salah satu referensi harga internasional. Untuk komoditi timah yang diperdagangkan di bursa timah Indonesia, harganya sudah mencerminkan harga yang terjadi di bursa internasional. 

Dia menujelaskan, industri bursa berjangka di Indonesia dimulai sejak 1997 di bawah UU No 32/1997 dan telah diubah dengan UU No 10/2011. Bursa yang pertama di Indonesia adalah Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange) yang didirikan pada 2.000. Kemudian pada 2010 Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (Indonesian Commodity and Derivatif Exchange) didirikan.
(izz)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top