alexametrics

Produsen mainan lokal masih kesulitan proses SNI

loading...
Produsen mainan lokal masih kesulitan proses SNI
Ilustrasi
A+ A-
Sindonews.com – Ketua Asosiasi Importir dan Distributor Mainan Indonesia (AIMI) Eko Wibowo Utomo mengaku, produsen mainan lokal masih kesulitan untuk memproses barangnya agar berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI). Pasalnya, ada sejumlah produk mereka yang tidak lolos pengujian.

“Yang kedua saya temuin juga ada beberapa orang yang produsen lokal, itu produknya ada beberapa yang enggak lulus. Sedangkan mereka itu enggak tahu standar sebelumnya kayak apa, mereka sudah produksi, sudah stok barang, enggak lulus,” ungkapnya kepada Sindonews, Minggu (4/5/2014).

Lebih lanjut dia menerangkan, produsen–produsen lokal tersebut lebih banyak yang tidak lolos dalam tahap pengujian physical dan mechanical, ketimbang dalam pengujian kimianya. Menurut dia, proses menyiapkan produk yang berstandar SNI itu bukan sekadar proses belajar singkat, sebaliknya membutuhkan waktu dan perhitungan matang untuk mencapainya.



”Ya ini kan proses benar-benar dari sisi industrinya sendiri, industri lokal harus bagaimana menyiapkan produk yang berstandar SNI. Itu kan bukan sekedar proses belajar yang singkat. Dari sisi bahan material, dari sisi fisik, mechanical disiapkan. Harus siap itu supaya lolos. Itu bukan sesuatu hal yang cepat dan mudah dilakukan. Ya itu, jadi keluhan beberapa pabrik yang sudah mencoba, enggak lulus. Mereka juga bingung ini gimana barang sudah jadi stok,” tutur dia.

Terlebih dengan kondisi produsen mainan di Indonesia yang mayoritas dari kelas menengah ke bawah, mereka lebih banyak menjual barang mainan tanpa merk yang mereka beli dari Tiongkok dalam satu paket.

“Ada barang yang dibeli kondisinya kita tahu sendiri di Indonesia kan banyak kelas menengah ke bawah. Yang dijual barang yang di kaki lima di kelas pedagang kecil, eceran kecil itu barang-barang murah yang paling cuma Rp5.000, Rp3.000 dan itu tanpa merek. Bagaimana harus dirapiin, itu kan belinya dari Tiongkok dalam bentuk satu plastik besar. Dalamnya isinya dicampur dalam satu paket,” tuturnya.
(rna)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak