Dari Hobi Jadi Cuan Belasan Juta, Inilah 5 Kisah UMKM Binaan SETC
Selasa, 27 Desember 2022 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Ani resmi membawa hobi mencetaknya itu menjadi brand Letes Craft yang menjual dompet, tas, sampai sepatu bermotif dedaunan unik. Produknya ternyata bisa terjual sampai kisaran harga Rp2 jutaan. Padahal, ketika memulai bisnis, Ani hanya mengeluarkan modal awal Rp300.000 saja.
"Alhamdulillah, aset Letes Craft saat ini sudah mencapai Rp200 jutaan, dengan omzet sekitar Rp5 jutaan per bulan. Bahkan, kalau sedang ramai, omzet bisa sampai Rp80 juta per bulan. Berkat ilmu dari SETC, saya jadi bisa bikin produk yang terjual sampai Hongkong dan bisa memberdayakan tetangga sebagai tenaga kerja," tambah perempuan asal Pasuruan itu.
Senada, pegiat fesyen lukis dengan brand N2N asal Malang, Lastri Suhartini juga mendapatkan kepercayaan diri untuk membuka usaha sampingan setelah bergabung dengan SETC. Usaha Lastri berupa jasa dan penyedia produk pakaian motif lukisan tangan.
"Sebenarnya basis keilmuan saya itu arsitektur, jadi memang hobi menggambar. Tadinya tidak terpikirkan untuk membuka usaha. Ternyata, sekarang aktivitas yang saya sukai ini bisa mendatangkan omzet Rp8-10 juta per bulan," kata Lastri.
Sebagai informasi, SETC memberikan pelatihan berbagai keterampilan kepada para pelaku UMKM binaan. Mulai dari manajemen keuangan dan bisnis, juga keterampilan produksi, pengolahan kuliner, sampai pengemasan produk.
Ada juga keterampilan pemasaran, baik konvensional maupun digital, akses jejaring dengan berbagai calon mitra bisnis, hingga pelatihan mengenai tata cara ekspor, sehingga para pelaku UMKM berkesempatan menjangkau lebih banyak pembeli dan bisnisnya cepat berkembang, bahkan sampai ke mancanegara.
Sementara itu, Eka Wahyu Setyowati, yang telah menjelajahi puluhan pameran UMKM sebagai pegiat patchwork alias kerajinan perca bersama brand-nya, Decak Handmade, melihat pentingnya peran lembaga pendampingan seperti SETC.
"Alhamdulillah, aset Letes Craft saat ini sudah mencapai Rp200 jutaan, dengan omzet sekitar Rp5 jutaan per bulan. Bahkan, kalau sedang ramai, omzet bisa sampai Rp80 juta per bulan. Berkat ilmu dari SETC, saya jadi bisa bikin produk yang terjual sampai Hongkong dan bisa memberdayakan tetangga sebagai tenaga kerja," tambah perempuan asal Pasuruan itu.
Senada, pegiat fesyen lukis dengan brand N2N asal Malang, Lastri Suhartini juga mendapatkan kepercayaan diri untuk membuka usaha sampingan setelah bergabung dengan SETC. Usaha Lastri berupa jasa dan penyedia produk pakaian motif lukisan tangan.
"Sebenarnya basis keilmuan saya itu arsitektur, jadi memang hobi menggambar. Tadinya tidak terpikirkan untuk membuka usaha. Ternyata, sekarang aktivitas yang saya sukai ini bisa mendatangkan omzet Rp8-10 juta per bulan," kata Lastri.
Sebagai informasi, SETC memberikan pelatihan berbagai keterampilan kepada para pelaku UMKM binaan. Mulai dari manajemen keuangan dan bisnis, juga keterampilan produksi, pengolahan kuliner, sampai pengemasan produk.
Ada juga keterampilan pemasaran, baik konvensional maupun digital, akses jejaring dengan berbagai calon mitra bisnis, hingga pelatihan mengenai tata cara ekspor, sehingga para pelaku UMKM berkesempatan menjangkau lebih banyak pembeli dan bisnisnya cepat berkembang, bahkan sampai ke mancanegara.
Sementara itu, Eka Wahyu Setyowati, yang telah menjelajahi puluhan pameran UMKM sebagai pegiat patchwork alias kerajinan perca bersama brand-nya, Decak Handmade, melihat pentingnya peran lembaga pendampingan seperti SETC.
Lihat Juga :