Potongan Pajak Karyawan Kurang Nendang

Sabtu, 05 Desember 2015 - 10:39 WIB
Potongan Pajak Karyawan...
Potongan Pajak Karyawan Kurang Nendang
A A A
JAKARTA - Pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai, kebijakan pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 untuk karyawan khusus industri padat dapat membuat total penghasilan yang diterima (takehome pay) pekerja akan jauh lebih besar. Kendati demikian, dia menilai kebijakan tersebut kurang "nendang".

Dia pun mencontohkan pekerja yang berpenghasilan Rp50 juta per tahun. Apabila pada awalnya dikenai pajak Rp50 juta dikurangi PTKP Rp36 juta dikali 5% sebesar Rp700 ribu. Dengan potongan tarif 50% dari pajak 5%, maka pajak yang dikenai hanya Rp350 ribu. Artinya penghasilan tambahan pekerja per bulan hanya Rp29 ribu saja.

"Jadinya memang kurang nendang," kata Yustinus di Jakarta, Jumat (5/12/2015) petang.

Dia menilai, mekanisme pemotongan PPh 21 melalui Pajak Di Tanggung Pemerintah (DTP) membuat pajak yang menjadi beban pekerja menjadi beban pemerintah. Kebijakan tersebut, ucap Yustinus, juga melengkapi kebijakan pemerintah sebelumnya yang menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP) menjadi Rp3 juta per bulan.

Dia menyatakan, pemerintah perlu menyosialisasikan sekaligus mengawasi kebijakan tersebut. Meski begitu, dia mengatakan, kebijakan itu diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi karena konsumsi masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan.

Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen) Pajak PER-32/PJ/2015 menetapkan tarif PPh 21 untuk gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lainnya ihwal pekerjaan, secara progresif. Untuk penghasilan yang di bawah Rp50 juta per tahun akan dikenakan 5%, Rp50-250 juta per tahun dikenakan 15%, Rp250-500 juta per tahun dikenakan 25%, dan di atas Rp500 juta dikenakan 30%.

Sebelumnya, pemerintah memberikan keringanan PPh pasal 21 untuk karyawan yang bekerja di industri padat karya. Keringanan tersebut diberikan selama jangka dua tahun dan nanti akan bisa dievaluasi jika dianggap perlu diperpanjang.

Untuk mempertegas keringanan ini, pemerintah akan segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP). ‎Sehingga, wajib pajak (WP) yang memenuhi persyaratan industri padat karya dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh fasilitas tersebut.
(dyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Aksi Menuntut Reformasi...
Aksi Menuntut Reformasi Pegawai Pajak
Diskon Pajak Mobil Baru...
Diskon Pajak Mobil Baru Berlaku Mulai 1 Maret 2021
Negara yang Kaya Tanpa...
Negara yang Kaya Tanpa Memungut Pajak dari Rakyatnya
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Kapolri: Polri akan...
Kapolri: Polri akan Kawal Kepatuhan Wajib Pajak untuk Bayar Pajak
Adaro Raih Penghargaan...
Adaro Raih Penghargaan Wajib Pajak
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
7 jam yang lalu
7 BUMN Kolaborasi Gelar...
7 BUMN Kolaborasi Gelar Blue Impact, Lestarikan Terumbu Karang dan Berdayakan Masyarakat Pesisir
8 jam yang lalu
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
8 jam yang lalu
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
9 jam yang lalu
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
9 jam yang lalu
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
9 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved