alexa snippet

Market Wait and See Kebijakan Proteksionis Trump Tahun Depan

Market Wait and See Kebijakan Proteksionis Trump Tahun Depan
Ekonom Anggito Abimanyu menerangkan, market masih wait and see menunggu kebijakan ekonomi yang akan digulirkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Ekonomi Indonesia diprediksi masih akan terimbas sedikit pada tahun depan oleh kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sempat disampaikan saat kampanye. Ekonom Anggito Abimanyu menerangkan, market masih wait and see menunggu kebijakan ekonomi yang akan digulirkan Trump.

Lebih lanjut menurutnya pertumbuhan ekonomi pada 2017 belum begitu optimal untuk perbaikannya, melihat berbagai macam risiko yang masih menghantui kondisi dalam negeri. "2017 memang masih wait and see soal gimana pengelolaan ekonomi di AS," ucapnya di Jakarta, Selasa (29/11/2016).

Dalam acara Investor Gathering yang diadakan oleh MNC Asset Management dan MNC Securities, Anggito menilai apa yang dijanjikan oleh Presiden AS terpilih menurut dia masih kurang market friendly. Dia menambahkan beberapa negara berkembang termasuk RI, masih akan memantau arah kebijakan ekonomi AS, apakah lebih proteksionis atau hanya sekedar janji.

"Jadi kita lihat apakah AS akan lebih proteksionis, dan akan lebih menutup diri ataukah itu janji-janji saja sehingga dia harus kompromi dengan dunia. Hal itu akan kita lihat seperti apa," lanjutnya

Selain itu, menurut dia apa yang dikatakan pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi bakal berada pada level 5,1% dan inflasi 4% cukup realistis, sehingga pemerintah bisa lebih maksimal dalam pencapaiannya. Namun dengan catatan bagaimana mega proyek pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam menggenjot infrastruktur dapat terwujud.

"Cuma sekarang, bagaimana pemerintah bisa mengeksekusi proyek-proyek infrastruktur, dan mobilisasi pendanaan dalam negeri sebanyak mungkin. Sehingga nanti 2018 itu jadi semua sesuai dengan target rencananya dan mungkin pertumbuhan kita bisa tunbuh 5,5% di 2018," kata dia.



(akr)
dibaca 3.897x
loading gif
Top