Harga Minyak Rendah Ancaman Ekonomi Dunia
Rabu, 13 Mei 2015 - 12:02 WIB
Harga Minyak Rendah Ancaman Ekonomi Dunia
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, rendahnya harga minyak dunia saat ini menjadi ancaman perekonomian banyak negara. Rendahnya harga ada indikasi agenda perpolitikan tertentu sehingga diperkirakan cukup lama.
Bahkan di beberapa negara, jika harga minyak rendah secara terus menerus, namun hanya Arab Saudi yang bisa bertahan dengan harga minyak yang stabil. "Struktur produksi yang bisa survive memang Saudi Arabia karena 10 juta barel per hari. Itu produksi onshore, sumur penuh. Biaya produksi USD10-USD20 paling tinggi per barel. Jadi kalaupun sampai USD30 masih bisa selamat," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, rabu (13/5/2015) .
Kondisi biaya produksi yang mahal di Indonesia sama seperti Rusia dan Amerika. Pasalnya, biaya produksi dua negara ini masih mahal seperti di Indonesia. Kondisi tersebut akan menjatuhkan bagi negara tersebut.
"Indonesia kalau temuan baru onshore lepas pantai mahal. Kedua onshore kebanyakan sumur lama, kalau mau tingkatkan mesti injeksi biaya mahal juga," ujar dia.
Atas dasar itu, Bambang mengajak masyarakat Indonesia untuk meninggalkan komoditas sebagai basis perekonomian. Lantaran, harga komoditas tidak stabil yang bergantung pada harga minyak dunia.
Saat ini, masyarakat Indonesia terlalu bergantung pada komoditas sebagai basis dari perekonomian Indonesia. "Kalau jangka panjang kuat, basis manufaktur selama ada value added saya yakin akan lebih tahan terhadap gunjangan. Karena komoditas volatile apalagi harga minyak jadi penentu," tuturnya.
Komoditas merupakan barang subtitusi sehingga harganya tidak akan berbalik arah jika harga minyak masih tergerus hingga waktu mendatang.
"Saya beri gambaran karet itu dua macam. Alam dan sintesis. Karet sintetis itu minyak atau oil product, di masa lalu ketika minyak USD100 harga karet sintetis mahal dari karet alam," tandas dia.
Bahkan di beberapa negara, jika harga minyak rendah secara terus menerus, namun hanya Arab Saudi yang bisa bertahan dengan harga minyak yang stabil. "Struktur produksi yang bisa survive memang Saudi Arabia karena 10 juta barel per hari. Itu produksi onshore, sumur penuh. Biaya produksi USD10-USD20 paling tinggi per barel. Jadi kalaupun sampai USD30 masih bisa selamat," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, rabu (13/5/2015) .
Kondisi biaya produksi yang mahal di Indonesia sama seperti Rusia dan Amerika. Pasalnya, biaya produksi dua negara ini masih mahal seperti di Indonesia. Kondisi tersebut akan menjatuhkan bagi negara tersebut.
"Indonesia kalau temuan baru onshore lepas pantai mahal. Kedua onshore kebanyakan sumur lama, kalau mau tingkatkan mesti injeksi biaya mahal juga," ujar dia.
Atas dasar itu, Bambang mengajak masyarakat Indonesia untuk meninggalkan komoditas sebagai basis perekonomian. Lantaran, harga komoditas tidak stabil yang bergantung pada harga minyak dunia.
Saat ini, masyarakat Indonesia terlalu bergantung pada komoditas sebagai basis dari perekonomian Indonesia. "Kalau jangka panjang kuat, basis manufaktur selama ada value added saya yakin akan lebih tahan terhadap gunjangan. Karena komoditas volatile apalagi harga minyak jadi penentu," tuturnya.
Komoditas merupakan barang subtitusi sehingga harganya tidak akan berbalik arah jika harga minyak masih tergerus hingga waktu mendatang.
"Saya beri gambaran karet itu dua macam. Alam dan sintesis. Karet sintetis itu minyak atau oil product, di masa lalu ketika minyak USD100 harga karet sintetis mahal dari karet alam," tandas dia.
(izz)
Lihat Juga :