Harga Rumah Baru di China Terus Turun
Selasa, 19 Mei 2015 - 09:40 WIB
Harga Rumah Baru di China Terus Turun
A
A
A
HONG KONG - Harga rumah baru di China turun untuk bulan kedelapan berturut-turut pada April. Meski demikian, harga relatif flat dari Maret.
Kondisi ini memberi harapan bahwa sektor properti yang melemah telah mencapai level terendah dan akan kembali menguat. Para analis memperingatkan, pemulihan di pasar properti akan membutuhkan waktu karena besarnya stok rumah baru yang belum terjual.
Sektor properti pun, menurut mereka, masih memiliki risiko terbesar di China yang saat ini berada di tahun terburuk dalam 25 tahun. Perkembangan terbaru ini akan tetap memberi tekanan pada para pembuat kebijakan untuk kembali melakukan pemangkasan suku bunga dan langkah stimulus lainnya pada tahun ini untuk mendorong aktivitas ekonomi. ”Rata-rata harga rumah baru di 70 kota besar China turun 6,1% pada April dari tahun lalu, tingkat penurunan yang sama pada Maret,” ungkap hasil kalkulasi Reuters berdasarkan data resmi yang diterbitkan kemarin.
Adapun, harga rumah baru secara nasional flat dari Maret, semakin berkurang dari penurunan 0,1% pada bulan sebelumnya. Harga rumah baru di Beijing naik untuk dua bulan berturut- turut. Di Shanghai harga rumah naik untuk pertama kali dalam 12 bulan. Meski demikian, harga di banyak kota yang lebih kecil, yangmencakupsekitar60% penjualan nasional, terus turun.
”Kami perkirakan penjualan rumah akan mengalami pertumbuhan pada semester II/2015 dan harga rumah di kota level ketiga dan keempat juga mulai naik pada semester,” kata kepala ekonom China di Nomura, Zhao Yang. ”Tapi, dampak besar untuk keseluruhan ekonomi ialah dari investasi properti, di mana kami tidak memperkirakan terjadi penguatan kembali dalam waktu cepat. Itulah mengapa kami perkirakan China akan tetap meleset dari target 7% untuk 2015.
” Zhao menjelaskan, investasi properti yang mencakup sekitar 20% produk domestik bruto (PDB) China, mungkin tumbuh kurang dari 5% tahun ini, dibandingkan dengan 10,5% pada 2014. Data pekan lalu menunjukkan penjualan rumah yang diukur dengan luas lantai menguat kembali 7,7% pada April dari tahun lalu, pertumbuhan pertama sejak November 2013.
Kendati demikian, pertumbuhan investasi properti terus melemah pada empat bulan pertama 2015, ke level terendah sejak Mei 2009, saat konstruksi baru berkurang, memengaruhi permintaan untuk semuanya mulai dari baja dan semen hingga peralatanrumahtanggadanfurnitur. Adapun, kredit perumahan naik 2,1% pada Januari-April dari periode yang sama tahun lalu. China mempermudah aturan pajak dan syarat uang muka untuk pembelian rumah kedua pada Maret.
Awal bulan ini bank sentral China memangkas suku bunga untuk ketiga kali sejak November untuk menurunkan biaya pinjaman perusahaan dan meningkatkan permintaan utang. ”Data harga itu menunjukkan kondisi keluar dari dasar,” ungkap ekonom Gavekal Dragonomics, Rosealea Yao, di Beijing. Dia menambahkan, pasar rumah kedua memimpin dengan penguatan 1,1% dibandingkan tahun lalu.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan harga rumah baru di Beijing naik 0,7% pada April dari Maret, meningkat dari kenaikan 0,3% pada Maret dari Februari. Adapun, harga rumah baru di Shanghai naik 0,6% setelah flat pada bulan sebelumnya. Liu Jianwei, pakar statistis senior di NBS menjelaskan, harga akan terpolarisasi antara kota-kota level pertama dan terendah, dengan rata-rata kenaikan 1% per bulan pada kota level pertama dan penurunan 0,1% dan penurunan 0,3% pada kota level kedua dan ketiga.
Di 70 kota besar yang dimonitor NBS, sebanyak 48 kota menunjukkan penurunan bulanan, turun dari Maret sebanyak 50 kota. Saat ekonomiChinamelemah, pertumbuhan tampaknya akan berada di bawah 7%. Kondisi ini membuat pemerintah bergerak cepat menghindari pemutusan hubungankerja(PHK) massal. Perusahaan-perusahaan negara didorong untuk tetap mempertahankan pegawainya.
Pemerintah juga menawarkan subsidi dan keringanan pajak pada perusahaan-perusahaan yang tidak memecat pegawainya. Beberapa bisnis bahkan merekrut pegawai baru meskipun pertumbuhan ekonomi lemah. Sejumlah kebijakan pemerintah tampaknya mulai membuahkan hasil. ”Tidak ada masalah besar disektor tenaga kerja. Mereka (para pemimpin) khawatir tentang risiko keuangan dan risiko utang,” ujar ekonom senior di Development Research Centre, thinktank yangberafiliasi dengan kabinet China, kepada kantor berita Reuters .
Kendati demikian, berbagai hal dapat berubah cepat. Dalam salah satu sinyal pertama tekanan pada pasar tenaga kerja China, pemerintahan Liaoning menyatakan, pada April pihaknya memangkas target penciptaan lapangan kerja 2015 menjadi 400.000 dari 700.000, mencerminkan tren sektor tenaga kerja yang memburuk.
Syarifudin
Kondisi ini memberi harapan bahwa sektor properti yang melemah telah mencapai level terendah dan akan kembali menguat. Para analis memperingatkan, pemulihan di pasar properti akan membutuhkan waktu karena besarnya stok rumah baru yang belum terjual.
Sektor properti pun, menurut mereka, masih memiliki risiko terbesar di China yang saat ini berada di tahun terburuk dalam 25 tahun. Perkembangan terbaru ini akan tetap memberi tekanan pada para pembuat kebijakan untuk kembali melakukan pemangkasan suku bunga dan langkah stimulus lainnya pada tahun ini untuk mendorong aktivitas ekonomi. ”Rata-rata harga rumah baru di 70 kota besar China turun 6,1% pada April dari tahun lalu, tingkat penurunan yang sama pada Maret,” ungkap hasil kalkulasi Reuters berdasarkan data resmi yang diterbitkan kemarin.
Adapun, harga rumah baru secara nasional flat dari Maret, semakin berkurang dari penurunan 0,1% pada bulan sebelumnya. Harga rumah baru di Beijing naik untuk dua bulan berturut- turut. Di Shanghai harga rumah naik untuk pertama kali dalam 12 bulan. Meski demikian, harga di banyak kota yang lebih kecil, yangmencakupsekitar60% penjualan nasional, terus turun.
”Kami perkirakan penjualan rumah akan mengalami pertumbuhan pada semester II/2015 dan harga rumah di kota level ketiga dan keempat juga mulai naik pada semester,” kata kepala ekonom China di Nomura, Zhao Yang. ”Tapi, dampak besar untuk keseluruhan ekonomi ialah dari investasi properti, di mana kami tidak memperkirakan terjadi penguatan kembali dalam waktu cepat. Itulah mengapa kami perkirakan China akan tetap meleset dari target 7% untuk 2015.
” Zhao menjelaskan, investasi properti yang mencakup sekitar 20% produk domestik bruto (PDB) China, mungkin tumbuh kurang dari 5% tahun ini, dibandingkan dengan 10,5% pada 2014. Data pekan lalu menunjukkan penjualan rumah yang diukur dengan luas lantai menguat kembali 7,7% pada April dari tahun lalu, pertumbuhan pertama sejak November 2013.
Kendati demikian, pertumbuhan investasi properti terus melemah pada empat bulan pertama 2015, ke level terendah sejak Mei 2009, saat konstruksi baru berkurang, memengaruhi permintaan untuk semuanya mulai dari baja dan semen hingga peralatanrumahtanggadanfurnitur. Adapun, kredit perumahan naik 2,1% pada Januari-April dari periode yang sama tahun lalu. China mempermudah aturan pajak dan syarat uang muka untuk pembelian rumah kedua pada Maret.
Awal bulan ini bank sentral China memangkas suku bunga untuk ketiga kali sejak November untuk menurunkan biaya pinjaman perusahaan dan meningkatkan permintaan utang. ”Data harga itu menunjukkan kondisi keluar dari dasar,” ungkap ekonom Gavekal Dragonomics, Rosealea Yao, di Beijing. Dia menambahkan, pasar rumah kedua memimpin dengan penguatan 1,1% dibandingkan tahun lalu.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan harga rumah baru di Beijing naik 0,7% pada April dari Maret, meningkat dari kenaikan 0,3% pada Maret dari Februari. Adapun, harga rumah baru di Shanghai naik 0,6% setelah flat pada bulan sebelumnya. Liu Jianwei, pakar statistis senior di NBS menjelaskan, harga akan terpolarisasi antara kota-kota level pertama dan terendah, dengan rata-rata kenaikan 1% per bulan pada kota level pertama dan penurunan 0,1% dan penurunan 0,3% pada kota level kedua dan ketiga.
Di 70 kota besar yang dimonitor NBS, sebanyak 48 kota menunjukkan penurunan bulanan, turun dari Maret sebanyak 50 kota. Saat ekonomiChinamelemah, pertumbuhan tampaknya akan berada di bawah 7%. Kondisi ini membuat pemerintah bergerak cepat menghindari pemutusan hubungankerja(PHK) massal. Perusahaan-perusahaan negara didorong untuk tetap mempertahankan pegawainya.
Pemerintah juga menawarkan subsidi dan keringanan pajak pada perusahaan-perusahaan yang tidak memecat pegawainya. Beberapa bisnis bahkan merekrut pegawai baru meskipun pertumbuhan ekonomi lemah. Sejumlah kebijakan pemerintah tampaknya mulai membuahkan hasil. ”Tidak ada masalah besar disektor tenaga kerja. Mereka (para pemimpin) khawatir tentang risiko keuangan dan risiko utang,” ujar ekonom senior di Development Research Centre, thinktank yangberafiliasi dengan kabinet China, kepada kantor berita Reuters .
Kendati demikian, berbagai hal dapat berubah cepat. Dalam salah satu sinyal pertama tekanan pada pasar tenaga kerja China, pemerintahan Liaoning menyatakan, pada April pihaknya memangkas target penciptaan lapangan kerja 2015 menjadi 400.000 dari 700.000, mencerminkan tren sektor tenaga kerja yang memburuk.
Syarifudin
(ars)