Neraca Perdagangan Jepang Kembali Defisit

Selasa, 26 Mei 2015 - 13:06 WIB
Neraca Perdagangan Jepang...
Neraca Perdagangan Jepang Kembali Defisit
A A A
TOKYO - Jepang kembali membukukan defisit perdagangan pada April setelah surplus pertama dalam tiga tahun pada Maret. ”Defisit bulanan sebesar 53,4 miliar yen, sekitar seperlima belas dari 825,5 miliar yen yang dibukukan setahun sebelumnya,” papar data Kementerian Keuangan Jepang, dikutip kantor berita AFP.

Ekspor naik 8% year on year (yoy) karena peningkatan pengiriman mobil, komponen elektronik dan mesin, saat yen 17% lebih murah dibandingkan dolar pada tahun lalu. Impor turun 4,2% saat hargaminyakdangasturun. Berdasarkan wilayah, pengiriman ke Amerika Serikat (AS) meningkat 21,4%, jauh melebihi peningkatan 2,4% untuk ekspor ke China dan kenaikan 0,8% ekspor ke Uni Eropa (UE).

”Ekonomi Jepang akan lebih kuat tahun ini, didorong oleh konsumsi domestik dan permintaan eksternal. Kami pikir ekonomi AS akan terustumbuhmoderat, membantu mendorong ekspor Jepang,” kata Yoshitaka Suda, ekonom di Nomura Holdings. Data April ini dirilis setelah pengumuman pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan proyeksi pada pekan lalu.

Data dari Kantor Kabinet menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 0,6% pada kuartal I/2015, saat ekonomi mulai bangkit dari resesi singkat. Bank Sentral Jepang pekan lalu meluncurkan lebih banyak stimulus dan Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Koroda menjelaskan, negara itu mulai bangkit setelah terpukul kenaikan pajak penjualan pada April tahun lalu.

Sejak menjabat pada 2012 Perdana Menteri (PM) Jepang menerapkan kebijakan belanja pemerintah skala besar dan kebijakan moneter dana murah oleh bank sentral, demi mengatasi deflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Defisit April lebih kecil dibandingkan proyeksi pasar bahwa defisit mencapai lebih dari 300 miliar yen, meskipun ini kemunduran dari surplus 227,4 miliar yen pada Maret.

Capital Economics memperkirakan, neraca perdagangan Jepang akan tetap merah dalam jangka pendek. ”Jika nilai tukar yen mulai melemah lagi pada semester II/2015 seperti kami perkirakan, impor minyak mentah akan semakin mahal lagi, dalam waktu dekat,” tutur Marcel Thieliant, ekonomJepangdiCapital Economics.

”Secara keseluruhan, neraca perdagangan akan tetap merah dalam beberapa bulan mendatang.” Para ekonom di SMBC Nikko Securities menjelaskan, ”Neraca perdagangan akan bergerak sekitar break event point untuk sementara, karena terhentinya pertumbuhan ekspor, peningkatan impor, dan perubahan harga minyak.”

Sementara, saham-saham Tokyo naik 0,74% kemarin, peningkatan selama tujuh hari berturut-turut, dengan indeks saham ditutup pada level tertinggi dalam 15 tahun. Indeks Nikkei 225 di Bursa Saham Tokyo naik 149,36 poin dan ditutup pada 20.413,77. Adapun, indeks Topix naik 0,69% atau 11,30 poin menjadi 1.659,15.

Syarifudin
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
1 jam yang lalu
Pakar Ungkap Kalkulasi...
Pakar Ungkap Kalkulasi Soal Alasan Harga Pertamax Belum Turun
3 jam yang lalu
Peneliti: Manfaat Ekonomi...
Peneliti: Manfaat Ekonomi Digital Lebih Banyak Dinikmati sebagai Konsumsi
5 jam yang lalu
Dulu Rakyatnya Ngungsi...
Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia
6 jam yang lalu
Tarif Listrik Tidak...
Tarif Listrik Tidak Naik hingga September 2026, Dirut PLN Bicara soal Pasokan
8 jam yang lalu
Optimisme Baru Ekonomi:...
Optimisme Baru Ekonomi: Laba Sejumlah BUMN Tumbuh Signifikan
9 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved