Pemimpin IMF dan ECB Soroti Masalah Utang Yunani
Rabu, 03 Juni 2015 - 10:55 WIB
Pemimpin IMF dan ECB Soroti Masalah Utang Yunani
A
A
A
BERLIN - Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi secara mengejutkan bergabung dalam perundingan krisis utang Yunani kemarin.
Kehadiran Lagarde dan Draghi menegaskan gentingnya kondisi saat Yunani menghadapi batas waktu Jumat (5/6) untuk pembayaran kembali utang sebesar USD328 juta pada IMF. Ada kekhawatiran Yunani tidak memiliki dana yang diperlukan dan akan gagal bayar, hingga mengakibatkan reaksi berantai yang dapat memaksa negara itu keluar dari zona euro.
Rapat hingga larut malam di Berlin itu juga dihadiri Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Francois Hollande, dan Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Tujuan rapat itu ialah menyepakati proposal akhir yang akan disajikan pada Athena, menurut laporan harian Jerman, Die Welt .
Meski demikian, kantor Merkel menyatakan, rapat itu hanya menyepakati kerja sama intensif dalam beberapa hari dan akan tetap saling menghubungi. Die Welt yang mengutip sejumlah sumber yang mengerti tentang rapat itu menyatakan, Perdana Menteri (PM) Yunani Alexis Tsipras di Athena menunggu telepon dari UE, IMF, dan ECB. Menurut sumber diplomatik, grup itu menelepon PM Yunani selama rapat.
Yunani masih menghadapi jalan buntu dalam berbagai negosiasi dengan para kreditor internasional untuk pencairan sisa dana bailout 7,2 miliar euro. Kesepakatan itu berjalan lambat karena para kreditor di Eropa dan IMF menginginkan reformasi lebih besar sebagai imbalan pencairan bailout .
Hingga saat ini pemerintah Yunani menolak melakukan perubahan lebih besar. Merkel, Hollande, dan Juncker bertemu untuk rapat yang sudah dijadwalkan pada Senin (1/6) waktu setempat, tapi kedatangan Lagarde dan Draghi memberikan kejutan bagi mereka. Lagarde dan Draghi berada di Jerman untuk rapat G-7 pekan ini, dimana krisis Yunani menjadi salah satu isi pembicaraan.
Amerika Serikat (AS) dan Jepang menekan Eropa untuk menyelesaikan krisis itu demi kepentingan ekonomi global. Pertemuan itu dilakukan setelah konferensi telepon pada Minggu (31/5) antara Merkel, Hollande, Juncker dan Tsipras, yang menurut juru bicara Merkel, berjalan konstruktif.
Kendati demikian, dalam kolom yang diterbitkan surat kabar Prancis, Le Monde , pada Minggu (31/5) Tsipras menyatakan bahwa pemerintahannya tidak bisa disalahkan jika terjadi kebuntuan perundingan. ”Ini karena ketidakkonsistenan aktor-aktor institusi dalam mengajukan sejumlah proposal konyol dan menunjukkan ketidakpedulian total pada pilihan demokratis terbaru rakyat Yunani,” tulis Tsipras.
Lagarde memicu kekhawatiran pekan lalu dengan menyebut potensi keluarnya Yunani dari zona euro (Grexit). Tapi menjelang rapat di Berlin, Juncker menekankan bahwa Grexit akan buruk bagi seluruh blok 19 negara tersebut.”Saya tidak menyebarkan ide bahwa kita memiliki kekhawatiran lebih sedikit jika Yunani keluar dari euro,” ujarnya pada Sueddeutsche Zeitung .
Syarifudin
Kehadiran Lagarde dan Draghi menegaskan gentingnya kondisi saat Yunani menghadapi batas waktu Jumat (5/6) untuk pembayaran kembali utang sebesar USD328 juta pada IMF. Ada kekhawatiran Yunani tidak memiliki dana yang diperlukan dan akan gagal bayar, hingga mengakibatkan reaksi berantai yang dapat memaksa negara itu keluar dari zona euro.
Rapat hingga larut malam di Berlin itu juga dihadiri Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Francois Hollande, dan Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Tujuan rapat itu ialah menyepakati proposal akhir yang akan disajikan pada Athena, menurut laporan harian Jerman, Die Welt .
Meski demikian, kantor Merkel menyatakan, rapat itu hanya menyepakati kerja sama intensif dalam beberapa hari dan akan tetap saling menghubungi. Die Welt yang mengutip sejumlah sumber yang mengerti tentang rapat itu menyatakan, Perdana Menteri (PM) Yunani Alexis Tsipras di Athena menunggu telepon dari UE, IMF, dan ECB. Menurut sumber diplomatik, grup itu menelepon PM Yunani selama rapat.
Yunani masih menghadapi jalan buntu dalam berbagai negosiasi dengan para kreditor internasional untuk pencairan sisa dana bailout 7,2 miliar euro. Kesepakatan itu berjalan lambat karena para kreditor di Eropa dan IMF menginginkan reformasi lebih besar sebagai imbalan pencairan bailout .
Hingga saat ini pemerintah Yunani menolak melakukan perubahan lebih besar. Merkel, Hollande, dan Juncker bertemu untuk rapat yang sudah dijadwalkan pada Senin (1/6) waktu setempat, tapi kedatangan Lagarde dan Draghi memberikan kejutan bagi mereka. Lagarde dan Draghi berada di Jerman untuk rapat G-7 pekan ini, dimana krisis Yunani menjadi salah satu isi pembicaraan.
Amerika Serikat (AS) dan Jepang menekan Eropa untuk menyelesaikan krisis itu demi kepentingan ekonomi global. Pertemuan itu dilakukan setelah konferensi telepon pada Minggu (31/5) antara Merkel, Hollande, Juncker dan Tsipras, yang menurut juru bicara Merkel, berjalan konstruktif.
Kendati demikian, dalam kolom yang diterbitkan surat kabar Prancis, Le Monde , pada Minggu (31/5) Tsipras menyatakan bahwa pemerintahannya tidak bisa disalahkan jika terjadi kebuntuan perundingan. ”Ini karena ketidakkonsistenan aktor-aktor institusi dalam mengajukan sejumlah proposal konyol dan menunjukkan ketidakpedulian total pada pilihan demokratis terbaru rakyat Yunani,” tulis Tsipras.
Lagarde memicu kekhawatiran pekan lalu dengan menyebut potensi keluarnya Yunani dari zona euro (Grexit). Tapi menjelang rapat di Berlin, Juncker menekankan bahwa Grexit akan buruk bagi seluruh blok 19 negara tersebut.”Saya tidak menyebarkan ide bahwa kita memiliki kekhawatiran lebih sedikit jika Yunani keluar dari euro,” ujarnya pada Sueddeutsche Zeitung .
Syarifudin
(ftr)