Transfer Pricing Harus Dicermati

Minggu, 14 Juni 2015 - 09:36 WIB
A A A
”Mereka (pelaku UMKM) ada keterbatasan jaringan, modal, dan keterampilan. Ini yang membuat Indonesia belum tentu bisa bersaing dengan adanya MEA,” katanya. Pemerintah, lanjut HT, harus mengkaji kembali sektorsektor apa saja yang harus dilindungi. Jika dibiarkan menghadapi pasar bebas, dia khawatir banyak yang tidak bisa bertahan. ”Jadi perlu pertimbangan pemerintah. Kalau perlu, harus diatur ulang sektor-sektor mana yang perlu diproteksi. Jangan sampai kita nanti kena libas sama negara lain,” tutur HT.

Dia mengungkapkan, meski umumnya pelaku usaha besar siap menghadapi MEA, Indonesia tetap tidak diuntungkan dengan pemberlakuan MEA. Pasar dalam negeri memiliki porsi lebih dibanding negara ASEAN lainnya. Indonesia akan menjadi pasar terbuka bagi kawasan ASEAN. ”Di MEA Indonesia porsinya dominan. Ekonomi kita itu mewakilikuranglebih40% dari total ekonomi ASEAN. Jadi kita kasih pasar kita ke mereka, sementara kita tidak bisa memaksimalkan pasar mereka,” katanya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat(AS) terus mengalami pelemahan. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6), nilai rupiah mencapai Rp13.335 per dolar AS. ”Tidak ada teori rupiah menguat itu buruk. Rupiah harus kuat, minimal di angka Rp12.000 per dolar AS. Idealnya Rp11.000 lebih,” sebut HT.

Fajar pratiwi
(ars)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1172 seconds (11.210#12.26)