BI dan Pemerintah Diminta Tanggapi Serius Pelemahan Rupiah
Kamis, 18 Juni 2015 - 19:24 WIB
BI dan Pemerintah Diminta Tanggapi Serius Pelemahan Rupiah
A
A
A
JAKARTA - Analis ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi, Agus Tony Poputra mengemukakan, pelemahan rupiah harus ditanggapi serius semua pihak. Jika BI dan pemerintah tidak melakukan kebijakan yang substansial untuk mencegah, bukan tidak mungkin situasi 1998 terulang kembali.
"Persiapan pemerintah untuk membentuk Crisis Management Protocol (CMP) dapat saja meredam penurunan rupiah lebih lanjut lewat jalur psikologis. Namun, efektivitasnya tergantung pada persepsi dan respon pelaku pasar uang dan efektvitasnya tidak menetap," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews, Kamis (18/6/2015).
Dia menuturkan terdapat pendapat bahwa pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan ekspor. Hal itu benar hanya jika ekspor Indonesia jauh melampaui impor, serta ekspor tersebut berupa barang jadi maupun barang intermediate. Namun fakta menunjukan impor Indonesia telah melewati ekspor pada beberapa tahun terakhir.
Selain itu, kata Agus, ekspor Indonesia kebanyakan berupa komoditas sehingga harganya murah dan sangat fluktuatif. Besarnya penerimaan ekspor komoditas tidak semata persoalan kurs tetapi juga volatilitas harga.
Pendapat yang menjustifikasi pelemahan rupiah tersebut kurang mempertimbangkan kepentingan konsumen. Pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan inflasi lewat sisi biaya (cost push inflation) mengingat barang dan jasa impor sudah mendominasi pasar Indonesia. Kebanyakan bahan baku juga diimpor.
"Inflasi lewat sisi biaya juga terjadi dari peningkatan beban keuangan produsen yang memiliki utang luar negeri yang ditranslasikan ke harga jual produk yang lebih tinggi. Ini berdampak pada tergerusnya daya beli konsumen," terangnya.
Stabilisasi rupiah yang hakiki tidak dapat diselesaikan lewat kebijakan yang bersifat responsif. Kebijakan tersebut umumnya hanya memberi solusi jangka pendek.
Baca Juga:
HT: Tidak Ada Teori Rupiah Menguat Itu Buruk
Penyebab Pelemahan Rupiah Tak Mampu Dongkrak Ekspor
HT: Rupiah Menguat Bagus bagi Ekonomi Indonesia
"Persiapan pemerintah untuk membentuk Crisis Management Protocol (CMP) dapat saja meredam penurunan rupiah lebih lanjut lewat jalur psikologis. Namun, efektivitasnya tergantung pada persepsi dan respon pelaku pasar uang dan efektvitasnya tidak menetap," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews, Kamis (18/6/2015).
Dia menuturkan terdapat pendapat bahwa pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan ekspor. Hal itu benar hanya jika ekspor Indonesia jauh melampaui impor, serta ekspor tersebut berupa barang jadi maupun barang intermediate. Namun fakta menunjukan impor Indonesia telah melewati ekspor pada beberapa tahun terakhir.
Selain itu, kata Agus, ekspor Indonesia kebanyakan berupa komoditas sehingga harganya murah dan sangat fluktuatif. Besarnya penerimaan ekspor komoditas tidak semata persoalan kurs tetapi juga volatilitas harga.
Pendapat yang menjustifikasi pelemahan rupiah tersebut kurang mempertimbangkan kepentingan konsumen. Pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan inflasi lewat sisi biaya (cost push inflation) mengingat barang dan jasa impor sudah mendominasi pasar Indonesia. Kebanyakan bahan baku juga diimpor.
"Inflasi lewat sisi biaya juga terjadi dari peningkatan beban keuangan produsen yang memiliki utang luar negeri yang ditranslasikan ke harga jual produk yang lebih tinggi. Ini berdampak pada tergerusnya daya beli konsumen," terangnya.
Stabilisasi rupiah yang hakiki tidak dapat diselesaikan lewat kebijakan yang bersifat responsif. Kebijakan tersebut umumnya hanya memberi solusi jangka pendek.
Baca Juga:
HT: Tidak Ada Teori Rupiah Menguat Itu Buruk
Penyebab Pelemahan Rupiah Tak Mampu Dongkrak Ekspor
HT: Rupiah Menguat Bagus bagi Ekonomi Indonesia
(dmd)