Asumsi Pertumbuhan Terlalu Optimistis

Rabu, 24 Juni 2015 - 09:11 WIB
Asumsi Pertumbuhan Terlalu...
Asumsi Pertumbuhan Terlalu Optimistis
A A A
JAKARTA - Asumsi pertumbuhan ekonomi indikatif 2016 yang ditetapkan pemerintah di kisaran 5,5- 6% dinilai masih terlalu optimistis.

Kondisi internal dan eksternal saat ini dinilai tidak mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi.Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic dan Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan, pemerintah harus lebih realistis dalam menetapkan asumsi makroekonomi.

Menurut dia, ketidakpastian ekonomi global maupun kondisi fundamental ekonomi dalam negeri tidak mendukung asumsi pertumbuhan yang ditetapkan pemerintah. ”Kalau terlalu muluk, bisa menciptakan distrust . Dunia usaha nantinya akan mengabaikan (pemerintah) dan berjalan sendiri-sendiri,” kata Eko saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.

Eko mengatakan, targettarget ekonomi pemerintah idealnya menjadi patokan bagi seluruh pelaku usaha, baik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta, termasuk perbankan. Namun, jika target selalu tidak tercapai, pelaku usaha akan meragukan kredibilitas pemerintah dan cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. ”Target 5,5-6% itu kan sebetulnya untuk memberikan optimismekepada pelaku usaha bahwa ekonomi bergairah, tapikalau fundamental ekonomi tidak mendukung ya susah,” ujarnya.

Eko menilai ekonomi nasional tahun depan masih akan menghadapi perlambatan terkait ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Begitu pula ekonomi dalam negeri yang belum membaik ditandai anjloknya penjualan. ”Sektor konsumsi yang menjadi bumper ekonomi pun terus menurun. (Pertumbuhan) ekonomi tahun depan sekitar 5%,” tuturnya.

Senada dengannya, pengamat ekonomi dan pasar uang Farial Anwar menilai asumsi pertumbuhan ekonomi indikatif tahun 2016 yang ditetapkan pemerintah terlampau optimistis. Perlambatan ekonomi global, terutama China dan isu utang Yunani menurutnya masih akan berdampak pada ekonomi nasional. ”Di dalam negeri juga masih bermasalah. Tahun depan (pertumbuhan) mungkin di bawah 5%,” ucap dia.

Dia memahami penetapan asumsi makro yang optimistis tersebut untuk mendorong masyarakat agar tidak pesimistis. Namun, rentang yang terlalu jauh antara target dan realisasi menurutnya bisa berdampak pada sektor keuangan. Sebelumnya pemerintah dan DPR menyepakati sejumlah asumsi makro indikatif 2016 yakni pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,5-6%, nilai tukar Rp13.000-13.400 per dolar AS, tingkat inflasi 4% plus minus 1% dan suku bunga SPN tiga bulan pada kisaran 4-6%.

Ketidaksesuaian antara asumsi pertumbuhan dengan kondisi ekonomi juga terjadi tahun ini. Itu tampak dari pengakuan Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro yang menyatakan bahwa cukup berat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7% sebagaimana tertuang dalam APBN-P 2015.

Menurut dia, pemerintah hanya akan mengupayakan pertumbuhan ekonomi 2015 lebih baik dari tahun 2014 yang hanya tumbuh sekitar 5%. ”Kami harus mengupayakan yang terbaik, pemerintah berupaya agar 2015 lebih baik dari 2014 yang hanya 5%,” katanya saat rapat kerja pembahasan asumsi makro RAPBN 2016 dengan Komisi XI DPR baru-baru ini.

Menkeu mengakui, kesulitan mencapai angka pertumbuhan sesuai proyeksi akibat berbagai tekanan internal dan eksternal yang mengganggu kinerja perekonomian nasional. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2015 pun hanya sebesar 4,71%.

Sementara, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II juga tidak jauh 5%. Pada kuartal II perekonomian diperkirakan masih tumbuh terbatas karena kinerja ekspor yang diproyeksikan masih tertekan akibat kondisi ekonomi global serta harga komoditas yang masih rendah. Sementara, sektor investasi pun diperkirakan masih lesu akibat lemahnya impor barang modal serta lambatnya perkembangan infrastruktur.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2015 hanya akan berada pada kisaran 5- 5,4%. Itu pun jika didukung oleh percepatan realisasi belanja pemerintah pada proyek-proyek infrastruktur serta perbaikan iklim investasi.

Rahmat fiansyah
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Purbaya Tepis Isu Mundur...
Purbaya Tepis Isu Mundur dari Kursi Menkeu di Tengah Kejatuhan Rupiah Rp18.039
39 menit yang lalu
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
1 jam yang lalu
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
1 jam yang lalu
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
3 jam yang lalu
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Harga MinyaKita Naik, Ini Sebabnya
4 jam yang lalu
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
4 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved