BI Klaim Cadangan Devisa Masih Aman

Rabu, 24 Juni 2015 - 09:31 WIB
BI Klaim Cadangan Devisa...
BI Klaim Cadangan Devisa Masih Aman
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia(BI) mengklaim secara umum cadangan devisa masih aman. Per Mei 2015, cadangan devisa tercatat sebesar USD110,8 miliar, sedikit lebih rendah dibanding posisi April USD110,9 miliar.

Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengungkapkan, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2015 terbantu oleh realisasi pinjaman bilateral yang ditarik oleh pemerintah. ”Kami melihat secara umum masih dalam keadaan aman dan BI akan selalu memperhatikan kecukupan cadangan devisa untuk pembayaran utang maupun pembayaran kewajiban impor kita,” kata Agus di Jakarta, Senin (22/6).

Dia melanjutkan, nilai tukar yang masih tinggi juga perlu diwaspadai sampai akhir tahun ini. Pasalnya, sewaktu-waktu bisa saja ada kebijakan menunda kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di Amerika Serikat (AS) sampai bulan September atau bahkan naik secara gradual. ”Kalaupun mata uang kita masih Rp13.300 dan tidak lebih kuat dari itu, maka secara umum masih harus waspadai,” ujarnya.

Sekadar diketahui, kemarin nilai tukar rupiah diperdagangkan di level Rp13.316 per dolar AS, menguat dibanding sehari sebelumnya Rp13.318perdolarAS. Agus menambahkan, yang juga perlu diperhatikan adalah perkembangan di Yunani di mana pada akhir bulan ini negara itu memiliki kewajiban jatuh waktu pembayaran utang.

Meski begitu, BI telah mengantisipasi sejak tahun 2010– 2011 bagaimana dampak dari krisis di Yunani bisa berefek dan menekan mata uang dunia. ”Kami antisipasi itu, ketika kita lihat AS, dolar AS menguat. Yang terjadi, ekonominya berdampak juga dengan USD menguat, maka mereka menunda Fed Rate. Untuk itu, Indonesia sampai akhir tahun harus tetap waspada,” tegasnya.

Ke depan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, sehingga dapat mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menambahkan, perlambatan ekonomi dialami juga di China, meski telah dilakukan berbagai kebijakan pelonggaran untuk menahan perlambatan ekonominya.

Menurutnya, perekonomian Eropa diperkirakan membaik, ditopang pelonggaran kondisi moneter dan keuangan yang cukup efektif, meski dibayangi risiko terkait dengan tingginya kekhawatiran kondisi negosiasi fiskal Yunani.

”Perekonomian dunia yang melambat berdampak pada harga komoditas internasional yang masih terus menurun, meski harga minyak dunia mulai meningkat secara gradual,” tukas dia.

Kunthi fahmar sandy
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
33 menit yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
1 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
10 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
10 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
11 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved