Inflasi Tinggi, BI Belum Bisa Tentukan Suku Bunga
Kamis, 02 Juli 2015 - 06:14 WIB
Inflasi Tinggi, BI Belum Bisa Tentukan Suku Bunga
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjio mengatakan, pihaknya masih belum bisa menentukan suku bunga acuan atau BI rate akibat inflasi pada Juni 2015 cukup tinggi di angka 0,54%, dan 7,26% year on year (YoY).
Dia mengungkapkan, BI akan melihat beberapa bulan ke depan mengenai perlunya penurunan rate suku bunga dari sebelumnya 7,5%.
"Kami akan lihat beberapa bulan yang akan datang. Inflasi kan lebih rendah dari perkiraan BI yang 0,55%, perkiraan BI di 0,7%. Ini meyakinkan kita kalau sampai akhir tahun inflasi 4%- 4,2%. Itu satu perkembangan positif," ujarnya di Gedung DPR RI, Rabu (1/7/2015)
Untuk Current Account Defisit (CAD), lanjut Perry, pada kuartal I kemungkinan 2,5%, kuartal II kemungkinan bisa jauh lebih rendah karena defisit dari migas mengecil dan surplus migas besar.
"Itu tidak terhindar ada bagian impor menurun karena permintaan domestik yang melambat. Tapi, stabilitas makro inflasi rendah dan CAD yang akan relatif rendah memberi faktor positif bagi stabiltas makro," paparnya.
Saat ini, BI akan memainkan beberapa pelonggaran makro prudential untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (PE).
"Kami akan lihat, yang bisa kami mainkan sekarang kan pelonggaran makro prudential untuk dorong PE. Suplai kredit perbankan sudah kami koordinasikan dengan pemerintah, demand juga didorong oleh fiskal yang cepat. Semester II ini, BI juga merasa positif ekonomi akan membaik," pungkasnya.
Baca juga:
Inflasi Juni Tercatat 0,54%
Ini Penyumbang Tertinggi Inflasi Juni
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 7,5%
Dia mengungkapkan, BI akan melihat beberapa bulan ke depan mengenai perlunya penurunan rate suku bunga dari sebelumnya 7,5%.
"Kami akan lihat beberapa bulan yang akan datang. Inflasi kan lebih rendah dari perkiraan BI yang 0,55%, perkiraan BI di 0,7%. Ini meyakinkan kita kalau sampai akhir tahun inflasi 4%- 4,2%. Itu satu perkembangan positif," ujarnya di Gedung DPR RI, Rabu (1/7/2015)
Untuk Current Account Defisit (CAD), lanjut Perry, pada kuartal I kemungkinan 2,5%, kuartal II kemungkinan bisa jauh lebih rendah karena defisit dari migas mengecil dan surplus migas besar.
"Itu tidak terhindar ada bagian impor menurun karena permintaan domestik yang melambat. Tapi, stabilitas makro inflasi rendah dan CAD yang akan relatif rendah memberi faktor positif bagi stabiltas makro," paparnya.
Saat ini, BI akan memainkan beberapa pelonggaran makro prudential untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (PE).
"Kami akan lihat, yang bisa kami mainkan sekarang kan pelonggaran makro prudential untuk dorong PE. Suplai kredit perbankan sudah kami koordinasikan dengan pemerintah, demand juga didorong oleh fiskal yang cepat. Semester II ini, BI juga merasa positif ekonomi akan membaik," pungkasnya.
Baca juga:
Inflasi Juni Tercatat 0,54%
Ini Penyumbang Tertinggi Inflasi Juni
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 7,5%
(dmd)
Lihat Juga :