Belanja Negara Harus Digenjot

Kamis, 30 Juli 2015 - 08:05 WIB
Belanja Negara Harus...
Belanja Negara Harus Digenjot
A A A
JAKARTA - Pemerintah diminta secepatnya meningkatkan belanja negara dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, pelambatan ekonomi saat ini semakin menekan dunia usaha di dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini telah memengaruhi daya beli masyarakat, dan pada akhirnya berimbas pada sektor industri di dalam negeri.

”Pelemahan rupiah memengaruhidaya belimasyarakat. Semua kebutuhan masyarakat yang sifatnya sekunder (jadi) tidak banyak dibeli, seperti mobil, motor, dan barang-barang sekunder lainnya, (dunia usaha) sepi,” ujar Ade di Jakarta kemarin. Karena itu, Ade berharap belanja pemerintah dapat digenjot untuk mengompensasi hal tersebut.

Menurut dia, sektor industri bergantung pada serapan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Namun, saat ini serapan anggaran bahkan belum mencapai 30%. ”Investasi juga. Iklim industri juga harus diperbaiki secara total seperti perizinan, pelabuhan, tol, dan lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah.

Pemerintah, tegas dia, bersama otoritas moneter telah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk menjaga nilai tukar rupiah. ”Saat ini kita juga fokus meningkatkan kemampuan ekonomi domestik, khususnya produktivitas industri nasional dan perbaikan kinerja ekspor. Tapi yang tidak bisa kuasai adalah harga komoditas yang turun itu,” ucapnya.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak terhadap kondisi fiskal. Pasalnya, anggaran negara tidak lagi dibebani pos subsidi bahan bakar minyak (BBM) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meski anggaran pemerintah tak terdampak setelah subsidi premium ditiadakan, PT Pertamina( persero) disisi lain terpaksa harus menanggung kerugian Rp12 triliun akibat harus menjual premium di bawah harga pasar.

Oktiani endarwati/ Rahmat fiansyah
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Musk Peringatkan Bahaya...
Musk Peringatkan Bahaya Utang AS, Pajak Miliarder Tak Akan Cukup Hapus Defisit
5 jam yang lalu
Bidik Calon Kreditur,...
Bidik Calon Kreditur, CLIK Propensity Score Bantu Bank Ambil Keputusan Akurat
5 jam yang lalu
Babinsa Awasi Pajak...
Babinsa Awasi Pajak Bisa Picu Persepsi Negatif, DPR: Jangan Sampai Dianggap Mata-mata
7 jam yang lalu
Redam Perang Dagang...
Redam Perang Dagang dengan AS, China Usul Pangkas Tarif Rp535 triliun
10 jam yang lalu
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi...
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi Naik Tahun Ini, Semuanya di Pulau Jawa
13 jam yang lalu
PLN EPI Bidik Pasar...
PLN EPI Bidik Pasar Hidrogen Hijau untuk Industri dan Penerbangan
13 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved