Penjualan INDF Rp32,63 T

Senin, 03 Agustus 2015 - 09:12 WIB
Penjualan INDF Rp32,63...
Penjualan INDF Rp32,63 T
A A A
JAKARTA - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pada semester I/2015 membukukan penjualan bersih konsolidasi Rp32,63 triliun atau tumbuh 3,7% dibandingkan periode yang sama 2014 yakni Rp31,48 triliun.

Presiden Direktur Indofood Sukses Makmur Anthoni Salim mengatakan, model bisnis perseroan telah memberikan pondasi yang kokoh di tengah perkembangan kondisi makro yang kurang menggembirakan. ”Kami akan terus menjalankan strategi untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, serta menghadapi tantangan ke depannya,” kata Anthoni di Jakarta akhir pekan lalu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kelompok usaha strategi (grup) produk konsumen bermerek (CBP) memberikan kontribusi terbesar yaitu 50% terhadap penjualan neto konsolidasi. Sedangkan, sisanya terdiri atas Bogasari 24%, Agribisnis 18% dan Distribusi 8%. Pada semester I/2015 laba usaha INDF naik tipis sebesar 0,5% menjadi Rp3,85 triliun.

Sedangkan, margin laba usaha turun 40 basis poin menjadi 11,8%, hal ini disebabkan melemahnya kinerja agrobisnis sebagai akibat dari penurunan harga jual ratarata produk sawit. Sementara, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 25,3% menjadi hanya Rp1,73 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,32 triliun.

Kepala Riset NHKSI Reza Priyambada mengatakan, penyebab turunnya laba bersih emiten konsumen dan ritel di semester I/2015 adalah naiknya biaya operasional perusahaan yang tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat yang kuat. ”Dolar AS terus menguat, menyebabkan perusahaan meningkatkan harga jual dan biaya operasional meningkat. Tapi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat menurun,” kata Reza saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Terkait outlook emiten ritel dan konsumer di semester II tahun ini, menurut dia masih dipengaruhi oleh nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah dan juga pertumbuhan ekonomi nasional.

Percepatan anggaran infrastruktur dari pemerintah dianggap sebagai stimulus untuk menguatkan mata uang rupiah dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Heru febrianto
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000, Buyback Melesat Rp38.000 per Gram
14 menit yang lalu
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
1 jam yang lalu
Salah Pilih Rekening...
Salah Pilih Rekening Tujuan? Cara Batalkan Pencairan Pinjaman Kredivo
1 jam yang lalu
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
1 jam yang lalu
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
3 jam yang lalu
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
11 jam yang lalu
Infografis
Penjualan Mobil Murah...
Penjualan Mobil Murah LCGC Anjlok, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved