Ekonomi Melambat, Indef: Stop Salahkan Kondisi Global!

Kamis, 06 Agustus 2015 - 10:07 WIB
Ekonomi Melambat, Indef:...
Ekonomi Melambat, Indef: Stop Salahkan Kondisi Global!
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta pemerintah berhenti (stop) menyalahkan kondisi perekonomian global, atas melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2015 hanya tumbuh 4,67% (year on year), atau turun 0,05% dibanding kuartal sebelumnya di angka 4,72%.

Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai, buruknya kondisi perekonomian Indonesia lantaran kontribusi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak maksimal. Konsumsi pemerintah hanya tumbuh 2,2% pada periode tersebut.

"Kan parah banget (konsumsi pemerintah). Waktu jaman SBY (Presiden RI ke-6) saja masih bisa 5% kontribusinya pemerintah terhadap ekonomi,"‎ katanya saat dihubungi Sindonews, Kamis (6/8/2015).

Menurut Enny, tidak maksimalnya ‎kontribusi pemerintah disebabkan adanya keterlambatan penyerapan anggaran, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Ditambah lagi, serapan anggaran yang sedikit tersebut tidak mampu memutar roda perekonomian.

"Dan juga untuk konsumsi nonpemerintah turun sampai 7,91%. Akibatnya, konsumsi rumah tangga hanya 4,97%. Ini drop sekali. Biasanya sejelek-jeleknya, itu masih 5%," imbuh dia.

Enny mengungkapkan, inflasi Juli 2015 yang hanya berada di kisaran 0,93% memang rendah.‎ Namun jangan lupa, dia mengingatkan bahwa kontribusi inflasi paling besar ada pada bahan makanan jadi serta kenaikan transportasi.

"Selama ini biasanya cuma 1%. Sekarang sampai 2,2%, itu tertinggi. Kenaikan transportasi dan makanan jadi. Artinya, itu yang menggerus pendapatan masyarakat," tegasnya.

‎Kenaikan transportasi dan harga kebutuhan pokok, sambung dia, menggerus pendapatan masyarakat. Daya beli masyarakat turun lantaran tergerus kenaikan harga tersebut.

"Jadi jangan lagi mengambinghitamkan kondisi eksternal. Persoalan lebih banyak di internal kita karena keyakinan bisnis juga turun. Problem terbesar itu di internal, ketidakcakapan pemerintah dalam memberikan stimulus dan arah yang lebih baik terhadap ekonomi Indonesia," pungkasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
5 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
6 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
7 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
9 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
9 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
9 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved