BI Yakin Pelemahan Rupiah Sementara

Senin, 10 Agustus 2015 - 07:58 WIB
BI Yakin Pelemahan Rupiah...
BI Yakin Pelemahan Rupiah Sementara
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meyakini pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan berlangsung lama. BI juga menegaskan tetap mengantisipasi penguatan dolar AS dengan menjaga stabilitas kurs.

”Kalau memang September, The Fed naik dan Desember naik lagi, setelah itu mudah-mudahan situasi pasar keuangan akan lebih stabil,” kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta akhir pekan. Dia melanjutkan, seperti situasi pada 2013 yakni ketika pasar keuangan menunggu stimulus moneter AS, pasar keuangan emerging market bergejolak, namun kembali stabil pada 2014. Cadangan devisa pada Juli 2015 yang kembali turun menjadi USD107,6 miliar, menurut Mirza, itu disebabkan beberapa faktor.

Salah satunya pelemahan ekonomi China sehingga membuat harga komoditas jatuh sejak 2012 hingga 2015. ”Pada 2015 ini titik bawah untuk harga komoditas karena pertumbuhan ekonomi China diperkirakan sudah mulai stabil walaupun belum meningkat,” ucap dia.

Menurutnya, apabila harga komoditas sudah mulai stabil dan pertumbuhan ekonomi China sudah mulai membaik, produk domestik bruto (PDB) di daerah Sumatera dan Kalimantan baru mulai stabil pada semester II 2015. Menurut Mirza, Indonesia masih memiliki cadangan devisa lebih dari 6,5-6,6 bulan impor. Cadangan devisa Juli 2015 bahkan masih sangat cukup untuk membiayai impor serta pembayaran utang.

Di sisi lain, dia juga menyarankan agar para importir membayar transaksi perdagangan dengan mata uang negara bersangkutan sehingga akan lebih baik bagi Indonesia dan emerging market . ”Saya jelaskan kita harus seperti negara lain. Transaksi domestik dalam mata uangnya. Negara lain seperti Singapura pakai dolar Singapura. Kalau negara lain bisa, kita harus dalam rupiah di dalam negeri,” terang dia.

Akhir pekan lalu rupiah melemah dan diperdagangkan di level Rp13.536 per dolar AS, turun tujuh poin dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan rupiah terkoreksi hingga 44 poin atau 0,33%. Ekonom INDEF Eko Listianto menuturkan, melemahnya kurs rupiah dipengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri yang masih melambat.

Menurut Eko, jika kondisi ekonomi di dalam negeri cukup baik, dapat bertahan menghadapi pengaruh dari global. Karena itu, untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah, BI harus membuat kebijakan moneter. ”Pemerintah juga harus bisa membaca potensi ekonomi domestik agar tak terlalu terpengaruh dengan faktor eksternal. Apalagi pasar modal Indonesia memang didominasi asing cukup besar,” tukasnya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, perkembangan cadangan devisa disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Di sisi lain kenaikan penerimaan devisa yang bersumber dari penerbitan Euro Bond, pemerintah mampu menahan penurunan lebih lanjut," ujar dia.

Kunthi fahmar sandy
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
5 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
6 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
6 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
6 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
7 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
7 jam yang lalu
Infografis
11 Bandara Papua Ditutup...
11 Bandara Papua Ditutup Sementara Imbas Penembakan Pesawat Smart Air
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved