Ambisi Kuasai ASEAN, Rini Ingin Bikin Teh Kotak BUMN
Kamis, 13 Agustus 2015 - 14:25 WIB
Ambisi Kuasai ASEAN, Rini Ingin Bikin Teh Kotak BUMN
A
A
A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menginginkan perusahaan pelat merah bisa bersinergi membuat teh kotak sendiri.
Sebab, potensi untuk hal tersebut ada lantaran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII memasok bahan baku teh untuk Sosro.
Untuk diketahui, BUMN perkebunan tersebut memasok 70% bahan baku teh kepada Sosro.
Padahal, PTPN sendiri memproduksi teh yang diberi nama Walini.
"Kok tahu tehnya bagus, kenapa enggak dari dulu bikin teh kotak BUMN. Kalau kita ke situ, akan jauh lebih baik. Kita bisa mencapai tujuan dengan baik," katanya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (13/8/2015).
Rini juga menyesalkan lantaran anak buahnya di Kementerian BUMN tidak pernah mencoba memasarkan produk hasil perusahaan BUMN. "Saya selalu bicara ke deputi, saya selalu ngomel ini bapak-bapak sudah lama di sini tapi enggak pernah pasarkan produk BUMN lain," tambahnya.
Dia berkeinginan agar BUMN bisa bersinergi hingga ke ritel lewat Teh Walini. Hal ini sebagai upayanya menjadikan perusahaan pelat merah menjadi konglomerat terbesar di ASEAN.
"Yang belum adalah bagaimana sinergi sampai ke ritel. Ini sebenarnya potensi yang sangat besar, teh Walini dikasih madu. Bayangkan kalau semuanya pakai itu, karyawan BUMN ada hampir satu juta, belum lagi om dan tantenya. Saya ingin 10 tahun arahnya ke sana. BUMN akan jadi konglomerat terbesar di ASEAN," terang Rini.
Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) ini menambahkan, saat ini sinergi BUMN yang sudah terjalin adalah membuat roadmap BUMN itu sendiri.
"Dalam sinergi ini, contohnya yang sudah kita lakukan tapi dalam prosesnya teman-teman masih khawatir, adalah salah satunya program membuat roadmap untuk BUMN. Kementerian membuat roadmap untuk seluruh BUMN," tandas dia.
Sebab, potensi untuk hal tersebut ada lantaran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII memasok bahan baku teh untuk Sosro.
Untuk diketahui, BUMN perkebunan tersebut memasok 70% bahan baku teh kepada Sosro.
Padahal, PTPN sendiri memproduksi teh yang diberi nama Walini.
"Kok tahu tehnya bagus, kenapa enggak dari dulu bikin teh kotak BUMN. Kalau kita ke situ, akan jauh lebih baik. Kita bisa mencapai tujuan dengan baik," katanya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (13/8/2015).
Rini juga menyesalkan lantaran anak buahnya di Kementerian BUMN tidak pernah mencoba memasarkan produk hasil perusahaan BUMN. "Saya selalu bicara ke deputi, saya selalu ngomel ini bapak-bapak sudah lama di sini tapi enggak pernah pasarkan produk BUMN lain," tambahnya.
Dia berkeinginan agar BUMN bisa bersinergi hingga ke ritel lewat Teh Walini. Hal ini sebagai upayanya menjadikan perusahaan pelat merah menjadi konglomerat terbesar di ASEAN.
"Yang belum adalah bagaimana sinergi sampai ke ritel. Ini sebenarnya potensi yang sangat besar, teh Walini dikasih madu. Bayangkan kalau semuanya pakai itu, karyawan BUMN ada hampir satu juta, belum lagi om dan tantenya. Saya ingin 10 tahun arahnya ke sana. BUMN akan jadi konglomerat terbesar di ASEAN," terang Rini.
Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) ini menambahkan, saat ini sinergi BUMN yang sudah terjalin adalah membuat roadmap BUMN itu sendiri.
"Dalam sinergi ini, contohnya yang sudah kita lakukan tapi dalam prosesnya teman-teman masih khawatir, adalah salah satunya program membuat roadmap untuk BUMN. Kementerian membuat roadmap untuk seluruh BUMN," tandas dia.
(izz)
Lihat Juga :