Rupiah Tembus Rp18.000 Lagi, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Jum'at, 10 Juli 2026 - 19:16 WIB
loading...
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menilai berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang positif dan mampu menopang stabilitas perekonomian nasional.
"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61%. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga masih positif," kata Airlangga Hartarto usai menghadiri Kadin Diplomatic Economic Breakfast, Jumat (10/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Airlangga menjelaskan defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Juni 2026 lebih disebabkan oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global, bukan karena melemahnya daya saing ekspor Indonesia. Menurut dia, kenaikan harga energi dunia menyebabkan nilai impor meningkat sehingga memengaruhi neraca perdagangan bulanan.
Ia menambahkan kinerja ekspor sejumlah komoditas utama, seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy, masih relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Karena itu, pemerintah menilai pelemahan rupiah lebih dipengaruhi dinamika global daripada faktor fundamental ekonomi domestik.
Di sisi lain, pemerintah terus menjaga stabilitas inflasi pada kisaran 2,5% ±1% melalui berbagai kebijakan. Salah satunya dengan menyiapkan insentif bagi industri kimia berupa pembebasan bea masuk bahan baku plastik, yang saat ini sedang difinalisasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61%. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga masih positif," kata Airlangga Hartarto usai menghadiri Kadin Diplomatic Economic Breakfast, Jumat (10/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Airlangga menjelaskan defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Juni 2026 lebih disebabkan oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global, bukan karena melemahnya daya saing ekspor Indonesia. Menurut dia, kenaikan harga energi dunia menyebabkan nilai impor meningkat sehingga memengaruhi neraca perdagangan bulanan.
Ia menambahkan kinerja ekspor sejumlah komoditas utama, seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy, masih relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Karena itu, pemerintah menilai pelemahan rupiah lebih dipengaruhi dinamika global daripada faktor fundamental ekonomi domestik.
Di sisi lain, pemerintah terus menjaga stabilitas inflasi pada kisaran 2,5% ±1% melalui berbagai kebijakan. Salah satunya dengan menyiapkan insentif bagi industri kimia berupa pembebasan bea masuk bahan baku plastik, yang saat ini sedang difinalisasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Lihat Juga :