BI Harus Kerek Suku Bunga Jika Rupiah Kian Ambruk
Sabtu, 22 Agustus 2015 - 14:11 WIB
BI Harus Kerek Suku Bunga Jika Rupiah Kian Ambruk
A
A
A
JAKARTA - Direktur Institute For Economics and Social Research I Kadek Dian Sutrisna Artha mengatakan, jika kondisi rupiah makin ambruk, Bank Indonesia (BI) harus menggerek suku bunga acuan (BI rate).
Menurut dia, kebijakan moneter tersebut merupakan instrumen utama untuk menghadapi kondisi rupiah yang semakin melemah akibat depresiasi mata uang global saat ini. Hal itu juga menjadi insentif bagi investor yang berinvestasi di Indonesia.
"Untuk rupiah saat ini, enggak ada pilihan lain, kebijakan BI itu harus dijalankan, yaitu kebijakan moneter ketat. Dengan mempertahankan BI rate atau kalau memang tekanannya makin kuat, BI rate-nya harus dinaikkan dari angka 7,5%," kata Kadek ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Sabtu (22/8/2015).
BI sudah cukup lama mempertahankan BI rate sejak Februari tahun ini di level 7,5%. Hal itu lantaran fokus bank sentral berupaya untuk menguatkan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan pelemahan mata uang dunia.
Kendati demikian, dia menjelaskan, nilai tukar tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, tapi juga kebijakan fiskal. Misalnya, realisasi anggaran pemerintah, faktor yang diperhatikan pasar.
"Karena walupun obligasi pemerintah kita banyak dikeluarkan, tapi kalau anggarannya enggak diserap, pasar menganggap uangnya enggak dipakai, sehingga ada dampaknya di sektor riil dan itu sebagai indikator orang melakukan investasi di Indonesia," katanya.
Jadi, kata dia, koordinasi fiskal moneter juga menjadi hal penting yang harus dilakukan untuk meredam koreksi rupiah lebih lanjut. Selain itu, di saat kondisi global tidak menentu seperti saat ini, Indonesia harus mengandalkan potensi domestik.
"Karena kita enggak mungkin mengandalkan eksternal kan, apa yang harus dipertahankan, ya di permintaan domestik. Itu yang menjadi motor penggerak pertumbuhan," katanya.
Dia menilai, jika potensi domestik diandalkan maka Indonesia diyakini bisa bertahan di tengah ketidakpastian global. Pasalnya, Indonesia hanya bagian kecil dari negara di dunia.
"Dilihat dari cadangan devisa, ibaratnya jika perang, Indonesia itu sudah kalah terlebih dahulu dibandingkan negara lain," ujar dia.
Baca:
Pengamat: Pemerintah Tak Punya Alasan Lemahkan Rupiah
Rupiah Dekati Rp14.000/USD Dihantam Data Ekonomi China
Menurut dia, kebijakan moneter tersebut merupakan instrumen utama untuk menghadapi kondisi rupiah yang semakin melemah akibat depresiasi mata uang global saat ini. Hal itu juga menjadi insentif bagi investor yang berinvestasi di Indonesia.
"Untuk rupiah saat ini, enggak ada pilihan lain, kebijakan BI itu harus dijalankan, yaitu kebijakan moneter ketat. Dengan mempertahankan BI rate atau kalau memang tekanannya makin kuat, BI rate-nya harus dinaikkan dari angka 7,5%," kata Kadek ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Sabtu (22/8/2015).
BI sudah cukup lama mempertahankan BI rate sejak Februari tahun ini di level 7,5%. Hal itu lantaran fokus bank sentral berupaya untuk menguatkan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan pelemahan mata uang dunia.
Kendati demikian, dia menjelaskan, nilai tukar tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, tapi juga kebijakan fiskal. Misalnya, realisasi anggaran pemerintah, faktor yang diperhatikan pasar.
"Karena walupun obligasi pemerintah kita banyak dikeluarkan, tapi kalau anggarannya enggak diserap, pasar menganggap uangnya enggak dipakai, sehingga ada dampaknya di sektor riil dan itu sebagai indikator orang melakukan investasi di Indonesia," katanya.
Jadi, kata dia, koordinasi fiskal moneter juga menjadi hal penting yang harus dilakukan untuk meredam koreksi rupiah lebih lanjut. Selain itu, di saat kondisi global tidak menentu seperti saat ini, Indonesia harus mengandalkan potensi domestik.
"Karena kita enggak mungkin mengandalkan eksternal kan, apa yang harus dipertahankan, ya di permintaan domestik. Itu yang menjadi motor penggerak pertumbuhan," katanya.
Dia menilai, jika potensi domestik diandalkan maka Indonesia diyakini bisa bertahan di tengah ketidakpastian global. Pasalnya, Indonesia hanya bagian kecil dari negara di dunia.
"Dilihat dari cadangan devisa, ibaratnya jika perang, Indonesia itu sudah kalah terlebih dahulu dibandingkan negara lain," ujar dia.
Baca:
Pengamat: Pemerintah Tak Punya Alasan Lemahkan Rupiah
Rupiah Dekati Rp14.000/USD Dihantam Data Ekonomi China
(rna)
Lihat Juga :