Aktivitas Manufaktur China Terkontraksi

Rabu, 02 September 2015 - 09:08 WIB
Aktivitas Manufaktur...
Aktivitas Manufaktur China Terkontraksi
A A A
BEIJING - Aktivitas manufaktur China mengalami kontraksi pada bulan Agustus, saat indeks resmi turun ke level terendah dalam tiga tahun terakhir, memperjelas perlambatan ekonomi di Negeri Panda.

Biro Statistik Nasional mencatat, indeks pembelian manajer (purchasing managers’ index /PMI) bulan lalu hanya sebesar 49,7. Indeks yang menggambarkan aktivitas sektor industri China tersebut, yang juga dianggap sebagai barometer kunci kesehatan perekonomian negara itu turun dibandingkan Juli lalu sebesar 50. Penurunan juga menjadi kontraksi pertama sejak Februari lalu.

Indeks di atas angka 50 menandai ekspansi, dan sebaliknya di bawah itu berarti penyusutan di sektor manufaktur. Angka PMI bulan Agustus lalu merupakan yang terendah sejak Agustus 2012. Outlook ekonomi China berbalik pesimistis, meski pada kuartal kedua tahun ini masih membukukan pertumbuhan sebesar 7%.

Sejumlah indikator di kuartal ketiga ini memburuk dan gelembung di bursa lokal pun ikut mendorong pasar modal di seluruh dunia bergejolak. ”Volatilitas di pasar finansial global akhir-akhir ini bisa menekan ekonomi riil, dan outlook pesimistis yang ada akhirnya bisa benar-benar terjadi,” kata Kepala Ekonom Caixin Insight Group He Fan, seperti dikutip AFP kemarin.

Bank sentral China pekan lalu memangkas suku bunga acuannya untuk kelima kalinya sejak November dan juga mengurangi jumlah uang kas yang harus disimpan perbankan sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan. Namun, ekonom ANZ Liu Li-Gang dan Louis Lam dalam penelitiannya menilai, masih dibutuhkan lebih banyak kebijakan fiskal yang proaktif serta pelonggaran finansial guna mendorong perekonomian.

Berdasarkan data manufaktur tersebut, para ekonom dari ANZ juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal ketiga tahun ini hanya akan mencapai 6,4%. Kendati didorong oleh kebijakan-kebijakan yang mendukung, perekonomian China pun diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 6,8% di kuartal terakhir tahun ini.

Sementara, harga komoditas dan pasar modal global kemarin ikut melemah, terdampak oleh buruknya data ekonomi yang dilansir Biro Statistik Nasional China. Kekhawatiran akan memburuknya perekonomian Negeri Panda menjadi semakin meningkat.

Di Eropa FTS Eurofirst 300 dibuka melemah 2,5%. Sementara, London, Frankfurt dan Paris melemah 2,3% hingga 2,5%. Harga minyak mentah pun tercatat kembali tergerus hampir USD1,5/barel.

M faizal
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
7 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
8 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
9 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
11 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
11 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
11 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved