Harga Gas Tinggi Hambat Daya Saing Industri

Senin, 07 September 2015 - 08:59 WIB
Harga Gas Tinggi Hambat...
Harga Gas Tinggi Hambat Daya Saing Industri
A A A
JAKARTA - Tingginya harga gas dinilai menjadi hambatan bagi industri untuk meningkatkan daya saing. Ketersediaan gas yang murah penting bagi industri untuk menekan biaya produksi, khususnya di tengah perekonomian yang sedang melambat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan, pihaknya tengah mengkaji lebih dalam mengenai dampak dan mekanisme yang memungkinkan tersedianya harga gas yang lebih murah bagi industri. BKPM pun akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk merealisasikan hal tersebut. ”Harga gas berkontribusi cukup besar dalam komponen biaya produksi,” tegas Franky melalui keterangan pers akhir pekan lalu.

Franky mengidentifikasi besaran porsi komponen harga gas dalam biaya produksi rata-rata mencapai 10-80%. Beberapa di antaranya adalahporsigasdalam industri keramik (30%), industri kaca (30-35%), industri baja (30- 35%), industri pupuk (80%), dan industri petrokimia (10%). ”Apabila efisiensi harga gas dapat diberikan, daya saing industri-industri tersebut tentu akan meningkat,” ujarnya.

Mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu menilai, langkah ini merupakan bagian dari upaya BKPM untuk mendorong kinerja investasi yang sudah ada agar tetap tumbuh dalam situasi ekonomi yang melambat. Dia mengatakan, selain menarik investasi, BKPM juga menjaga agar investasi yang ada tidak berhenti atau hengkang.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pemakai Gas (Apigas) Sumatera Utara (Sumut) Johan Brien mengatakan, industri di Sumut mengalami kesulitan dalam menjalankan operasional karena kenaikan harga gas per 1 Agustus lalu dari awalnya USD8,7/per mmbtu (million british termal unit) menjadi USD 14/per mmbtu. ”Secara head to head, harga gas di Sumut jauh di atas harga gas di Malaysia dan Singapura. Di dua negara itu harga gas untuk industri paling mahal USD3,8/mmbtu,” jelasnya.

Menurut Johan, kenaikan harga hingga dua kali lipat itu membuat biaya produksi melonjak signifikan, khususnya industri keramik dan sarung tangan yang membutuhkan banyak gas. Alhasil, industri lokal pun kini sulit bersaing di pasar di tengah masuknya impor dengan harga yang lebih murah.

Rahmat fiansyah
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
25 menit yang lalu
ADVAN Universe 2026...
ADVAN Universe 2026 Digelar di Bandung, Perkuat Ekosistem Talenta Digital
33 menit yang lalu
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
2 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
3 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
3 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
4 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved