Minyak AS Jatuh karena Prospek Ekonomi Global Suram
Selasa, 08 September 2015 - 09:53 WIB
Minyak AS Jatuh karena Prospek Ekonomi Global Suram
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak Amerika Serikat (AS) jatuh pada Selasa karena prospek ekonomi global yang suram berlanjut dan kerja sama negara-negara penghasil minyak untuk mengekang kelebihan pasokan tampak tidak terjadi, sehingga membuat harga minyak mentah AS turun sekitar 3% pada awal perdagangan Asia.
Produk domestik bruto (PDB) Jepang menyusut 1,2% pada kuartal II tahun ini di tengah langkah pemerintah yang sedang mendukung pertumbuhan.
Sementara saham Asia berjuang untuk menghindari koreksi terdalam tiga tahun terakhir yang terjadi pada bulan lalu karena investor mencari tanda-tanda lebih lanjut dari stabilitas dalam perlambatan ekonomi dan volatilitas pasar keuangan China.
"Harga minyak sekarang diperkirakan berada di sekitar level saat ini hingga akhir 2015, sebelum naik sekitar 50-an pada akhir 2016," kata National Australia Bank, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/9/2015).
Minyak mentah AS turun lebih dari 3% dari penutupan sebelumnya pada pukul 08.25 WIB menjadi 44,66/barel. Sementara minyak Brent berjangka menguat 40 sen menjadi USD48,03/barel, dari hari sebelumnya yang turun USD1,24/barel.
Harga minyak telah jatuh hampir 60% sejak Juni 2014 karena banjirnya pasokan global. Harga minyak dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi kekhawatiran tentang melambatnya ekonomi China, yang berimbas pada gejolak di pasar saham global.
Di sisi penawaran, spekulasi baru-baru ini menyebutkan bahwa Rusia kemungkinan bersedia untuk melakukan kerja sama dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menahan produksi.
Volume produksi minyak OPEC mendekati rekor sehingga menekan kompetisi, terutama ddengan produsen AS, yang sejauh ini harganya terjun karena terus memproduksi minyak.
Produk domestik bruto (PDB) Jepang menyusut 1,2% pada kuartal II tahun ini di tengah langkah pemerintah yang sedang mendukung pertumbuhan.
Sementara saham Asia berjuang untuk menghindari koreksi terdalam tiga tahun terakhir yang terjadi pada bulan lalu karena investor mencari tanda-tanda lebih lanjut dari stabilitas dalam perlambatan ekonomi dan volatilitas pasar keuangan China.
"Harga minyak sekarang diperkirakan berada di sekitar level saat ini hingga akhir 2015, sebelum naik sekitar 50-an pada akhir 2016," kata National Australia Bank, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/9/2015).
Minyak mentah AS turun lebih dari 3% dari penutupan sebelumnya pada pukul 08.25 WIB menjadi 44,66/barel. Sementara minyak Brent berjangka menguat 40 sen menjadi USD48,03/barel, dari hari sebelumnya yang turun USD1,24/barel.
Harga minyak telah jatuh hampir 60% sejak Juni 2014 karena banjirnya pasokan global. Harga minyak dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi kekhawatiran tentang melambatnya ekonomi China, yang berimbas pada gejolak di pasar saham global.
Di sisi penawaran, spekulasi baru-baru ini menyebutkan bahwa Rusia kemungkinan bersedia untuk melakukan kerja sama dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menahan produksi.
Volume produksi minyak OPEC mendekati rekor sehingga menekan kompetisi, terutama ddengan produsen AS, yang sejauh ini harganya terjun karena terus memproduksi minyak.
(rna)
Lihat Juga :