Harga Minyak Dunia Tergelincir Dipicu Sentimen Jepang
Kamis, 10 September 2015 - 10:05 WIB
Harga Minyak Dunia Tergelincir Dipicu Sentimen Jepang
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia tergelincir di awal perdagangan Kamis karena menyusutnya pesanan mesin di Jepang, sehingga memicu kekhawatiran bahwa melemahnya investasi lebih lanjut bisa makin mengikis pertumbuhan ekonomi yang sudah melambat di Asia.
Dikutip dari Reuters, pesanan mesin inti di Jepang dianggap sebagai indikator belanja modal dalam enam sampai sembilan bulan ke depan. Berdasarkan data resmi, pesanan mesin inti turun 3,6% pada Juli.
Itu jauh lebih buruk dibanding perkiraan ekonom, dengan kenaikan sebesar 3,7%, sekaligus melanjutkan penurunan pada bulan sebelumnya sebesar 7,9%.
Analis sudah memperkirakan China akan mengalami perlambatan lebih lanjut dalam pertumbuhan ekonomi, yang saat ini sudah berada pada titik terendah dalam satu generasi.
Minyak berjangka Brent diperdagangkan di USD47,52/barel pada pukul 09.30 WIB. Sementara minyak berjangka Amerika Serikat (AS) hampir tidak berubah pada USD44,16/barel.
Harga minyak telah turun lebih dari 50% sejak Juni 2014, ketika produksi global melonjak dan mulai berbenturan dengan perlambatan ekonomi di Asia, mesin pertumbuhan utama komoditas pada tahun-tahun terakhir.
Dikutip dari Reuters, pesanan mesin inti di Jepang dianggap sebagai indikator belanja modal dalam enam sampai sembilan bulan ke depan. Berdasarkan data resmi, pesanan mesin inti turun 3,6% pada Juli.
Itu jauh lebih buruk dibanding perkiraan ekonom, dengan kenaikan sebesar 3,7%, sekaligus melanjutkan penurunan pada bulan sebelumnya sebesar 7,9%.
Analis sudah memperkirakan China akan mengalami perlambatan lebih lanjut dalam pertumbuhan ekonomi, yang saat ini sudah berada pada titik terendah dalam satu generasi.
Minyak berjangka Brent diperdagangkan di USD47,52/barel pada pukul 09.30 WIB. Sementara minyak berjangka Amerika Serikat (AS) hampir tidak berubah pada USD44,16/barel.
Harga minyak telah turun lebih dari 50% sejak Juni 2014, ketika produksi global melonjak dan mulai berbenturan dengan perlambatan ekonomi di Asia, mesin pertumbuhan utama komoditas pada tahun-tahun terakhir.
(rna)
Lihat Juga :