Neraca Dagang Surplus, Mendag: Kita Masih Prihatin
Rabu, 16 September 2015 - 15:36 WIB
Neraca Dagang Surplus, Mendag: Kita Masih Prihatin
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong atau yang akrab disapa Tom Lembong meminta agar pemerintah dan masyarakat tidak terlena dengan kondisi neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2015 yang mencetak surplus USD433,8 juta, atau setara Rp6,07 triliun (kurs Rp14.000/USD).
Dia mengatakan, surplusnya neraca perdagangan periode Agustus 2015 ini memang berita positif di saat ekonomi Tanah Air kurang baik. Namun kenyataannya kondisi neraca perdagangan masih naik turun dan terjadi volatilitas.
"Trennya secara fundamental harus kita lihat bukan angka sesaat. Kalau dari tren, kita masih prihatin dan harus waspada," katanya di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
Tom menyatakan, Indonesia tetap harus waspada mengingat kondisi ekonomi global saat ini masih belum stabil. Bahkan, tahun ini menjadi tahun ketiga, di mana angka pertumbuhan perdagangan global berada di bawah pertumbuhan ekonomi global.
"Dalam tiga puluh tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi katakan 3%, tapi pertumbuhan perdagangan global hanya 1%. Artinya kondisi perdagangan global masih berat," imbuh dia.
Menurutnya, kondisi perekonomian global yang masih terpuruk ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terpengaruh terhadap perekonomian global.
"Tapi kami akan kerja keras untuk mengimplementasikan kebijakan mendorong ekspor dan merasionalisasi impor," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan RI pada Agustus 2015 mencetak surplus USD433,8 juta atau setara Rp6,07 triliun (kurs Rp14.000/USD).
Angka ini berasal dari selisih ekspor Agustus mencapai USD12,70 miliar atau naik 10,79% dibanding bulan sebelumnya sebesar USD11,46 miliar. Sementara impor naik 21,69% menjadi USD12,27 miliar dari bulan lalu sebesar USD10,08 miliar.
"Surplus neraca perdgangan Juni didukung sektor nonmigas, yang surplus sebesar USD10,8 miliar, sedangkan sektor migas defisit USD4,5 miliar," kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Selasa (15/9/2015).
Menurut dia, porsi ekspor terbesar pada bulan tersebut adalah lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD12,61 miliar dan bahan bakar mineral mencapai USD11,30 miliar.
Adapun, untuk porsi impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik sebesar USD14,79 miliar serta mesin dan peralatan listrik senilai USD10,18 miliar.
"Untuk pangsa pasar ekspor nonmigas periode Januari-Agustus 2015, terbesar adalah Amerika Serikat (AS) dengan total USD10,33 miliar atau dengan porsi 11,53%," ujarnya.
Kedua adalah China menvapai USD8,87 miliar atau setara 9,89%. Ketiga, Jepang sebesar USD8,78 miliar atau 9,80%.
Adapun pangsa pasar untuk impor, negara pengimpor pertama adalah China sebesar USD19,02 miliar, dengan porsi 24,13%. Kemudian diikuti Jepang senilai USD9,15 miliar atau 11,62%, dan ketiga Singapura mencapai USD5,81 miliar atau 7,37%.
"Sedangkan share untuk ASEAN sebesar USD17,28 miliar atau 21,93% dan Uni Eropa USD7,52 miliar atau 9,54%," pungkasnya.
Baca: Neraca Perdagangan Agustus Surplus Rp6 triliun
Dia mengatakan, surplusnya neraca perdagangan periode Agustus 2015 ini memang berita positif di saat ekonomi Tanah Air kurang baik. Namun kenyataannya kondisi neraca perdagangan masih naik turun dan terjadi volatilitas.
"Trennya secara fundamental harus kita lihat bukan angka sesaat. Kalau dari tren, kita masih prihatin dan harus waspada," katanya di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
Tom menyatakan, Indonesia tetap harus waspada mengingat kondisi ekonomi global saat ini masih belum stabil. Bahkan, tahun ini menjadi tahun ketiga, di mana angka pertumbuhan perdagangan global berada di bawah pertumbuhan ekonomi global.
"Dalam tiga puluh tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi katakan 3%, tapi pertumbuhan perdagangan global hanya 1%. Artinya kondisi perdagangan global masih berat," imbuh dia.
Menurutnya, kondisi perekonomian global yang masih terpuruk ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terpengaruh terhadap perekonomian global.
"Tapi kami akan kerja keras untuk mengimplementasikan kebijakan mendorong ekspor dan merasionalisasi impor," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan RI pada Agustus 2015 mencetak surplus USD433,8 juta atau setara Rp6,07 triliun (kurs Rp14.000/USD).
Angka ini berasal dari selisih ekspor Agustus mencapai USD12,70 miliar atau naik 10,79% dibanding bulan sebelumnya sebesar USD11,46 miliar. Sementara impor naik 21,69% menjadi USD12,27 miliar dari bulan lalu sebesar USD10,08 miliar.
"Surplus neraca perdgangan Juni didukung sektor nonmigas, yang surplus sebesar USD10,8 miliar, sedangkan sektor migas defisit USD4,5 miliar," kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Selasa (15/9/2015).
Menurut dia, porsi ekspor terbesar pada bulan tersebut adalah lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD12,61 miliar dan bahan bakar mineral mencapai USD11,30 miliar.
Adapun, untuk porsi impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik sebesar USD14,79 miliar serta mesin dan peralatan listrik senilai USD10,18 miliar.
"Untuk pangsa pasar ekspor nonmigas periode Januari-Agustus 2015, terbesar adalah Amerika Serikat (AS) dengan total USD10,33 miliar atau dengan porsi 11,53%," ujarnya.
Kedua adalah China menvapai USD8,87 miliar atau setara 9,89%. Ketiga, Jepang sebesar USD8,78 miliar atau 9,80%.
Adapun pangsa pasar untuk impor, negara pengimpor pertama adalah China sebesar USD19,02 miliar, dengan porsi 24,13%. Kemudian diikuti Jepang senilai USD9,15 miliar atau 11,62%, dan ketiga Singapura mencapai USD5,81 miliar atau 7,37%.
"Sedangkan share untuk ASEAN sebesar USD17,28 miliar atau 21,93% dan Uni Eropa USD7,52 miliar atau 9,54%," pungkasnya.
Baca: Neraca Perdagangan Agustus Surplus Rp6 triliun
(izz)
Lihat Juga :